Kamis, 24 Juli 2008
Si-Biru yang Setia
Kesepian saat suami bekerja sering kami manfaatkan untuk berkumpul dan bercengkerama. Dari hanya sekadar mengobrol sampai praktek membuat kue, menanam bunga, sampai belanja bareng-bareng ke pajak ( pasar ) dan pergi rekreasi. Pokoknya, gimana caranya supaya rasa sepi dan suntuk itu bisa dialihkan. Kalau nggak, wah wah wah…bisa-bisa kami cabut dari kebun karena nggak tahan dengan rasa bosan yang mendera. Kalau udah gitu kan kasihan suami-suami kita, jadi gak ada yang merawat hehehe…
Oya, tapi kami masih bersyukur loh, karena perusahaan mengertiiiii banget dengan keadaan ini. Makanya kami diberi fasilitas sebuah mobil plus sopirnya yang bisa dipakai untuk kegiatan apaaaaaaa aja. Intinya, supaya ibu-ibu tuh nggak bingung cari kendaraan lagi kalau pas mau belanja atau pergi ke luar kota. Pokoknya kami bebas memakai kapan, siapa, dan kemanapun deh ! Dan si-biru ( kami menjuluki mobil itu ) sangat setia dan baik hati sama kami. Nggak pernah manja apalagi rewel. Tenaga mesinnya paten sehingga selalu ready kapanpun dan kemanapun kami mau pergi. Eng ing eng…si-biru yang kokoh tuh ternyata kijang Krista. Sampe sekarang interiornya tetap mulus bagus, padahal kalau udah pergi rame-rame, tingkah kami di dalam mobil udah nggak terkontrol lagi deh. Interior ok, bodi luarnya pun seksiiiii banget, mulus nggak ada tergores. Padahal nih, kondisi jalan di daerah sumatera utara, apalagi kalau udah masuk areal perkebunan kelapa sawit, wiii ngeri deh, banyak lobang segede kolam ikan, terjal, licin, berbatu, dan sempit. Untung si-biru kami ini bandel, kalau nggak mana tahan dia dengan kondisi jalan seperti itu. Kalau mobil yang lain pasti yang ada capeee deeeh…hehehe…
Kami punya cerita seru nih pas lagi rekreasi belanja ( tetep shoping hehehe )sama si-biru. Waktu itu bulan Maret 2008 ( tanggalnya gak ingat lagi ) kami rame-rame pergi ke Tanjung Bale. Itu adalah tempat jual korden dan bahan ( kain ) dengan harga murah. Memang sih, untuk kordennya banyak yang second alias bekas. Tapi dijamin masih bagus-bagus banget, karena bekas bukan sembarang bekas loh. Yup, korden-korden itu bekas dipake di hotel-hotel dan kantor-kantor gitu, jadi masih bagus-bagus. Jadilah kami memborong korden dan bahan. Sampe berkarung-karung gitu hihihi…secara, kapan lagi ibu-ibu kebun ini bisa belanja, so ya dimanfaatin banget momen ini. Karena begitu kembali ke kebun, sepi lagi deeeehhh…makanya kami berlomba-lomba memborong korden dan bahan. Tawar-menawar pun tak terelakkan lagi. Kadang geli juga, udah tau murah banget masih pake ditawar pula. Dasar ibu-ibu…hihihi…Bahkan saking heboh dan riuhnya kami belanja, tak sadar kami ternyata sudah banyak diliatin orang. Diantaranya malah tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah kami. Mungkin mereka pikir kami datang dari planet lain yang nggak pernah shoping ya hehehe…
Lagi-lagi nih, untungnya si-biru kami ini tangguh dan lega alias gede. Bisa menampung karung-karung belanjaan kami. Dan bisa ditebak, mobil diisi penuh dengan karung belanjaan. Hihihi…bener-bener kayak orang udik deh. Norak abeesss !!! sepanjang perjalanan pulang, kami sudah dalam kondisi yang lelah teramat sangat. Si-biru sangat pengertian. Dengan hembusan ac yang sejuk dan minim getaran membuat kami terlena dan tertidur pulas meski saling berjejal dengan karung-karung belanjaan. Ahhh…Tanjung Bale kami tinggalkan dengan penuh kenangan manis. Apalagi untuk aku yang belum pernah singgah di tempat itu.
At last, si-biru membawa kami pulang. Kembali ke kebun yang sunyi dan terpencil. Suami-suami tercinta kami pasti sudah menunggu dengan penuh kerinduan. Dan kami masih berharap akan datang masa seperti itu lagi. Pelesir bersama kawan-kawan, naik si-biru tentunya hehehe…
***
Rabu, 23 Juli 2008
HUT Pernikahan ke-2, Bermunajat...
tak ada harapan yg muluk-muluk...aku & suamiku hanya ingin menjadi orang yg sabar, kuat, dan tabah serta ikhlas dlm menjalani hidup yg tidak mudah ini.Apalagi kami tinggal di perantauan yg jauh dari kampung halaman, tak ada sanak saudara satu-pun...bener2 sendiri ! Cukuplah Allah menjadi pelindung & penolong kami...moga kami senantiasa diberi kemudahan dan kelancaran dalam setiap langkah kami,dan hanya ridlo Allah yg kami cari...amiiin...
Cinta, Aku Berdo’a
Membalut sepi yang kerap mendera
Mematri kasih untukmu dan buah hati, kini
Hingga ujung waktu menghadang
Jika yang lain membelah jiwa
Aku pastikan seluruh jiwa dan ragaku milikmu
Karena aku tak mau terpisah olehmu
Terikat bersama dalam ijab selamanya
Masih begitu panjang perjalanan aku dan kamu
‘tuk merenda hari dengan penuh warna
Tertawa dalam suka ataupun menangis dalam duka
Terselimuti tabir keikhlasan dan kesabaran
Menyerahkan segala kisah ini pada-Nya
Karena kita hanya bisa berbuat
Merencanakan semua akan baik-baik saja
Sedang Dia yang memiliki kuasa…menentukan segala
Tak ada pesta bersama ria sepanjang ini
Tapi aku dan kamu tertunduk, hendaknya
Merunduk dalam lafadz do’a
Bersyukur hingga hari ini menjelang
Semoga cinta ini tak henti sepanjang ini
Tapi aku dan kamu tertunduk, hendaknya
Merunduk dalam lafadz do’a
Bersyukur hingga hari ini menjelang
Semoga cinta ini tak henti bersemi
Kesetiaan ini tak bosan mengiringi
Ketabahan tak jua beranjak
Dari kala itu, sekarang, hingga nanti…
*Kupersembahkan di hari ulang tahun ke-2 perkawinanku*
Aek Nabara, 24 Juli 2008
Minggu, 20 Juli 2008
Membunuh Badai
Terkikis hujan hingga tenggelam dalam badai
Patah dan pecah berderai
Terbang bersama angin menyeberangi lautan
Pedih tak tertahan sang mahkota telah raib
Terenggut oleh air beraroma anyir
Tersapu waktu yang tak pernah mau tahu
Badai itu menghanguskan mimpi-mimpi yang terpintal rapi
Hampir tak ada celah maaf tersisa
Hampir menusuk harapan untuk kembali
Tak terlihat layar hati mengepak sempurna
Yang ada hanyalah sayap-sayap yang nyaris patah
Tubuhnya pasi dan membiru
Jantungnya semakin menghilang
Sesaat lagi langit bergemuruh mengabu
Dan perlahan ia menjelma
Gusar…kejam…buas…
Sebagai pembunuh dengan belati dendam
Membunuh waktu, membunuh badai…
Aek Nabara, 20 Juli 2008
Jumat, 18 Juli 2008
Gosip
Di ujung perjamuan berdendang
Mata terpicing berkeliling
Mengumbar syahwat sangka, membuka aib
Hingga mendung turun dan gerimis jua
Menggenangkan nanah yang baru
Menyayat borok yang sejatinya kering
Ternganga kembali…perih lagi…
Dan sumpah serapah itu menjelma bak sampah
Berbau busuk menebar diantara nafasnya
Diantara bualan-bualannya
Diantara kebohongan-kebohongannya
Diantara yang paling menarik
Diantara tipu daya yang membuta
Nyinyir mendendangkan kepalsuan
Kerap dirinya lupakan…
Aek Nabara, 18 Juli 2008
Aku Lelah
Lelah aku berdamai dengan hati
Lelah aku tersingkir dari asa
Selalu aku yang menanggung luka
Selalu aku yang memikul dosa
Selalu aku yang merasakan malu
Jiwa yang lemah itu tak mau lepas dari raga
Membuatku tak kuasa memberontak
Membuatku hanya bisa diam dan tersungkur
Melihat kegagalan mengoyak langkah
Melihat kekalahan membunuh mimpi
Langkah yang kumulai sejak kala itu
Mimpi yang kurajut sejak lama
Kini tinggal relung-relung rapuh
Serapuh rasa jiwa ini yang telah lelah…
Aek Nabara, 18 Juli 2008
Ibu Tiriku, Oase yang Sempat Hilang...
Ibu Tiriku, Oase yang Sempat Hilang...
Dulu kupikir bapak sudah tidak mencintai ibu lagi. Selang dua tahun sejak ibu meninggal, bapak memutuskan untuk menikah lagi. Jelas, bagiku, kala itu bapak sudah mengkhianati mendiang ibu. Sudah seperempat abad lebih ibu menemani bapak dengan setia dan tanpa mengeluh, tiba-tiba kini dengan mudahnya bapak melupakan ibu dengan menikahi seorang perempuan bernama Rina. Perempuan berjilbab itu masih tergolong muda, 40 tahun dan bapak 55 tahun. Meski janda tanpa anak, penampilannya masih seperti gadis saja. Pantas saja bapak seperti terlena dengan dia. Yang aku tak habis pikir, bagaimana mungkin perempuan itu mau dinikahi bapak yang sudah tua dan punya empat orang anak ? Sempat terbersit bahwa perempuan itu hanya mengincar harta bapak. Maklum, di kampung kami bapak memang tergolong orang yang cukup mapan. Tapi segera kutepis pikiran itu dan selanjutnya aku hanya bisa diam menyaksikan ijab Kabul kedua bapak itu.
Hari itu, hari pertama kali ada “perempuan asing” dalam rumah kami. Kami berempat cuma bisa terdiam melihat bapak dan perempuan itu terlihat begitu suka cita. Amarah dan sakit hatiku semakin memuncak ketika malam mulai larut. Bagaimana tidak, perempuan itu tidur dalam satu kamar dan satu ranjang dengan bapak. Seharusnya ibu yang ada disisi bapak, bukan dia. Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan sedikit terisak dalam kamar, hingga tertidur…
Pagi hari, pukul 05.00 kudengar di dapur telah bising oleh suara orang memasak. Dengan sedikit masih mengantuk kucoba melihat apa yang telah terjadi di dapur. Sebab sejak ibu tiada, tak pernah ada lagi acara memasak di pagi hari. Masing-masing disibukkan dengan dirinya sendiri sehingga urusan sarapan pagi kami beli sendiri-sendiri di warung.
Aku terkesiap, beberapa jenis masakan telah tersedia di meja makan. Dan perempuan itu dengan sumringah menyapaku. “Udah bangun Fin ?”
Aku tak menjawab, hanya berlalu.
“Sholat subuh dulu Fin…” sambungnya kemudian.
Lagi-lagi aku tak menyahut.
Begitulah hari-hari kami sejak ada perempuan itu. Memang sedikit teratur, tapi tetap saja kuanggap itu cuma bentuk usaha dia untuk memikat hati kami, anak-anak bapak, terutama aku. Paling-paling hanya satu bulan pertama saja seperti itu, selanjutnya…ah !
Satu…dua…tiga…empat…lima bulan berlalu. Perempuan itu tetap konsisten menjalankan roda rumah tangga dengan baik. Mulai dari menyiapkan makan, mencuci, menyetrika, bersih-bersih rumah hingga mencari uang dengan menjalankan usaha berdagang baju-baju muslim. Memang, teman-temannya cukup banyak. Silih berganti datang ke rumah untuk melihat dan membeli baju-baju muslim yang diambilnya dari jawa tengah. Setiap hari, kalau tidak ada jadwal kuliah, aku sering mengintip dari balik jendela kamar yang memang berseberangan dengan ruang tamu. Perempuan itu begitu ramah dan telaten dalam melayani pembeli. Senyum merekah tak henti-hentinya tersungging dari bibirnya. Dan kulihat orang-orang itu begitu senang dengan bu Rina, begitulah terakhir aku memanggilnya. Tidak tampak di wajahnya rasa letih dan lelah. Padahal aku tahu, sejak dari sebelum subuh, bu Rina sudah bangun, memasak, mencuci, menyapu, mengepel, hingga menyiapkan segala kebutuhan bapak dan kami sebelum berangkat beraktifitas.
Hingga pernah, pada suatu hari, saat dirumah sepi, hanya ada aku dan bu Rina, ia bertanya padaku. “Fin, kalo lulus kuliah mau kerja apa ?”
Aku menggeleng, malas menanggapinya.
“Pasti kerja kantoran ya ? Ibu lihat Fifin suka menulis di komputer.”
Aku masih diam.
“Atau mau gak bisnis kayak ibu ?” tanyanya kali ini dengan nada bercanda
“Nggak.” Jawabku cepat
Bu Rina tertawa kecil, “Iya, kalau bisa raih cita-cita yang lebih tinggi lagi ya…fifin kan udah kuliah, harusnya bisa jadi yang lebih dari sekadar berjualan baju kayak ibu. Ibu dulu kan nggak kuliah, cuma tamatan SMP, jadi ya mana mungkin kerja di kantoran. Bisanya ya jualan gini aja. Tapi alhamdulillah, hasilnya lumayan juga lo…”
Seketika hatiku menciyut. Sedikit ada rasa kagum pada bu Rina.
“Dulu, ibu juga ingin jadi orang pintar, kerja di kantoran. Tapi sayang kondisi keuangan keluarga pada waktu itu gak memungkinkan untuk ibu bisa sekolah tinggi. Tapi ibu dulu bertekad ingin mandiri meski berbekal pendidikan yang minim. Makanya, fifin sekarang udah enak tuh, biaya sekolah ada, jadi jangan sampai semua itu terbuang sia-sia. Manfaatkan kesempatan yang ada dengan baik. Sebenarnya jadi apapun gak masalah, yang penting tidak bertentangan dengan agama dan dijalani dengan penuh tanggungjawab. Ibu doakan besok fin jadi orang sukses ya.”
Sederhana saja apa yang dikatakannya, tapi entah kenapa, tiba-tiba batinku bergejolak. Seperti tengah mendorong-dorong semangatku untuk bangkit. Apalagi saat ia katakan akan mendoakan aku untuk sukses...memang, sejak ibu meninggal, seperti hilang gairah hidupku. Parahnya lagi, tidak ada yang memberiku semangat. Bapak sibuk bekerja, sementara saudara-saudara kandungku pun tak pernah ada waktu untuk berbagi. Aku seperti menemukan tempat berlabuh, tempat bersandar. Seketika ingin rasanya aku menumpahkan segala isi hatiku yang selama ini terpasung dalam kesepian tanpa ibu. Kata-kata dan suara lembut bu Rina sanggup membiusku untuk terlena dalam dekapannya. Dan, kala itu aku memang jatuh dipelukannya dan menangis membasahi jilbabnya putihnya. Hari itu aku merasakan belaian yang begitu tulus. Meski tak dapat mengalahkan ibu, tapi aku cukup tenang bersamanya.
Bu Rina, ibu tiriku. Tak sanggup aku memanggilnya ibu seperti aku memanggil ibuku. Tapi aku dan juga ia tak pernah peduli. Kasih dan cinta tak hanya sebatas sebutan ibu. Sudah cukup bagiku petuah dan limpahan do’a yang bu Rina berikan padaku menjadi oase yang selama ini sempat hilang dari hidupku.
Kini, aku telah berumah tangga dan memiliki seorang puteri kecil berusia satu tahun. Dan kini aku menganggap bu Rina bukan saja sebagai ibu, tapi juga guruku dalam berkarya, temanku dalam suka, dan pelipur laraku dalam duka. Aku juga berdagang baju muslim dan bahkan memiliki langganan yang lebih besar dari bu Rina. Ah, bangganya aku. Tapi ternyata bu Rina lebih bangga padaku.
Bu Rina tak pernah lelah dan lalai menemani bapak, menapaki usia yang semakin senja. Kini aku lega, ibu di surga pasti juga bahagia, karena bu Rina menjadi pengganti peran ibu yang tulus. Satu hal yang sampai detik ini menjadi pembelajaran untukku dari bu Rina. Bagaimana bu Rina begitu berbesar hati saat dulu aku tak pernah mempedulikannya, bagaimana bu Rina begitu tabah menjalani hari-hari bersama bapak yang sempat sakit-sakitan, bagaimana juga bu Rina begitu bertanggungjawab menjalankan setiap tugas dan kewajibannya dalam mengurus rumah tangga dan kerjaan. Dan satu lagi bagaimana bu Rina begitu tulus menyayangi bapak, aku, dan saudara-saudaraku.
Seorang bu Rina telah membuka mata hatiku, bagaimana aku harus bisa menjadi perempuan mandiri dan kuat dalam mengarungi hidup. Tak harus menjadi kejam, otoriter, angkuh, ataupun keras hati untuk bisa mandiri dan kuat. Tapi justru kelembutan, kesabaran, serta keikhlasan akan membawa kita menjadi perempuan yang tak terkalahkan.***
*terpilih dlm 10 besar cermin indosiar 2008*
Kamis, 17 Juli 2008
Keisha Flu Berat

Sang Penari
Selembar selendang merah membelah sudut raga
Menghimpit rupiah diantara sela nafas
Lenggok pinggulnya hampir merebus birahi
Mendidihkan hayal menjadi nyata
Senyum dan tatapan penuh gairah mistis merasuki
Sampai malam melarut menjemput pagi
Serangkai bunga melati membaurkan wangi cemeti
Mulut berbisik lembut menularkan jampi-jampi
Menidurkan siapa saja yang menciumnya
Menaklukan siapa saja yang melihatnya
Terbawa dalam mimpinya
Terdampar dalam kisahnya
Sang perempuan penari itu tak kuasa tertawa dalam penat
Sambil sesekali menangis dibalik malam
Aek Nabara, 17 Juli 2008
Perempuan Bermata Elang
Matanya tajam seperti elang
Mencengkeram dunia, melepas mimpi
Kemarin ia termangu di sudut cermin
Melihat bayangan sendiri, tak kuasa
Matanya tajam merajam
Menerbangkan mereka yang takut terbang
Menjatuhkan mereka yang takut jatuh
Menghempaskan mereka yang takut terhempas
Melemparkan…menukik…tajam…hingga terjerembab dalam sesal
Perempuan bermata elang menutup hati
Hilang bersama waktu
Aek Nabara, 17 Juli 2008
Tertipu
Aku selalu dikatakan cantik
Semburat wajah sumringah bak mata air
Memilin mahkota berderai tawa memanja
Ria lepas begitu saja dari sahaja
Tak mampu membendung suka
Malu-malu…pelan-pelan…hingga terjatuh dalam buai
Terumpan mulut beracun, aku tak sadar…
Pagi, siang, malam terhanyut sungai berjeram
Lalu ragaku terkikis habis, dimakan ular
Sebentar lagi mati, terbius bisanya
Tapi aku terbangun, telanjang !
Ular itu melucuti kain sariku
Dan, ah ! aku kini tertipu (lagi) !!!
Aek Nabara, 17 Juli 2008
Rabu, 16 Juli 2008
SMS hari persahabatan se-dunia
Selasa, 15 Juli 2008
My Husband, Always !
Keisha Najasyi Rasyifa Mimboro

Marah
Kalau ia berteriak hingga ujung langit pecah
Atau ia diam memendam sampai batas bawah tanah terbelah
Semua telinga mendengar
Atau tak satu pun yang tahu
Jika matanya memerah mendidih
Seperti ingin menerkam apa saja
Atau matanya terkatup rapat
Membawa kesunyian di taman kamboja
Semakin sunyi…senyap…
Alam dibuatnya tuli
Atau sepi seperti tak berpenghuni…
Aek Nabara, 15 Juli 2008
Senin, 14 Juli 2008
Kabarnya
Kabarnya perempuan itu setan
Yang menjelma dalam keharuman
Penebar kehancuran dengan kelembutan
Senyumnya membawa maut
Mengantar hidup lelaki ke lahat terakhir
Terkubur dalam-dalam, mati !
Begitukah…???
Tapi suamiku tak mati karena bercinta denganku ?!
Anak lelakiku juga tak mati karena kulahirkan ?!
Bapakku, kakekku, pamanku, semua tak mati karena aku dilahirkan ?!
Lalu siapa perempuan yang terkabar itu ???
Semua diam dan tak pernah terjawab
Entah…
Aek Nabara, 12 Juli 2008
Ketika Ingin
Lihatlah liangku mulai menganga
Meminta dengan liur menetes-netes
Haus akan sentuhan penuh cinta
Bukan hasrat yang diburu birahi
Ia memanggil-manggil penuh harap
Merintih tapi tak mengaduh
Ingin berbagi dan menerima
Saat benih itu disebar dalam nebula kasih
Hingga jatuh luruh menembus rasa
Terbang…melayang…tak tergapai…lepas…
Ia hanya ingin dimengerti
Harus dan tak harus atau boleh dan tak boleh
Tak terkoyak dengan egois
Tapi cukup dengan memanggilku, “sayang…”
Dan kau akan dapatkan lebih nikmat
Karena aku bersedia !
Aek Nabara, 12 Juli 2008
Bunga Mawar
Merekah bergincu merah terang
Mahkota segar berembun sejak pagi
Bergairah seperti ingin merayu siapa saja
Memaksa untuk mencium semerbak wewangian bidadari
Hingga terlena merengkuh terbuai
Tak sadar tangan pedih berdarah-darah
Sang Mawar berbalut duri tak segan mencakar
Mereka tak selalu tahu tentang bunga mawar
Yang hanya mau menggoda tapi tak ingin digoda
Aek Nabara, 12 Juli 2008
Do’anya
Bersimpuh ia dalam rona malam tak berbintang
Khusyuk melantunkan ampunan pada Sang Kuasa
Bukan untuknya semata tapi juga mereka, yang dikasihi
Yang mencintanya ataupun yang membencinya
Terselip diantara bermohon kebaikan
Yang tak mengenal siapa dan bagaimana
Ketulusan itu sanggup meluluhkan dendam
Sekaligus meredakan perih panjang
Ia…berhati lapang dan tertanam keikhlasan
Dunia ini
Aek Nabara, 12 Juli 2008
kembang Desa
Sejak ia beranjak dewasa
Seperti menyibak kelopak yang menutup mahkota
Kuncup berkembang merah meranum
Sari menjadi harapan sang kumbang
Untuk dihisap…dijadikannya sebagai pelega dahaga
Merona malu-malu menanti-nanti gerangan
Sang kumbang datang dengan sayap terkepak
Seolah ingin gagah merebut sari dari serbuan kumbang lain
Sari bunga beterbangan…terbawa angin…jauh…
Hingga tak sadar kumbang telah meninggalkannya
Entah kemana…tanpa bisa memanggil…tanpa bisa mengejar…
Aek Nabara, 26 Juni 2008
Janda
Letih saat ngantuk mulai merasuk
Sementara tungku masih membara
Untuk sesuap nasi esok hari
Anak-anak dan ia sendiri
Disudut kasur lusuh, anak-anak tertidur
Lega, mungkin mereka tengah bermimpi bertemu bapaknya
Andai ia bisa menitip pesan
Akan meminta bisa selalu bermimpi
Angin malam menusuk hingga rusuk
Tapi pesanan kue ini tak bisa menunggu
Sang juragan tak mau kenal mengiba
Tertatih ia pun mencoba merebah
Tepat di depan tungku…hangat…
Dan ia pun terlelap dalam buai mimpi
Tanpa harus menitip pesan
Seperti ada rasa…hangat…
Meski sendiri saja !
Aek Nabara, 26 Juni 2008
Perempuan di Ujung Jalan
Berdekil legam terbakar matahari
Menunggu angin menyapu angan menerbangkan mimpi
Asa yang hingga kini tak jua bersua
Hampir separuh umur direlakannya kikis
Melupakan getirnya kisah pilu kala remang-remang
Tak sanggup melawan…tak kuasa menangkis
Hingga terkoyak-koyak…habis…hilang…sakit…
Perih itu masih terasakan
Waktu tak bisa merubah semuanya menjadi lebih baik
Kini tawanya lepas tak terbatas
Tangisnya berderai terkuras
Sesaat tertawa kemudian menangis…terus
Sampai matahari membenam letih bersinar
Perempuan itu…masih di ujung jalan…
Aek Nabara, 26 Juni 2008
Perempuan Berkata
Aku hanya ingin dibelai
Aku hanya ingin dicinta
Aku hanya ingin didengar
Aku hanya ingin dipeluk
Aku hanya ingin berarti
Aku hanya ingin berbagi
Dan aku akan berikan segalanya untukmu
Aek Nabara, 23 Juni 2008
Perempuan dan Hati
Jelaskan hatinya jika terluka
Jelaskan hatinya saat tersentuh
Jelaskan hatinya kala bahagia
Jelaskan hatinya waktu kosong
Perempuan berkata hatiku menangis
Perempuan berkata hatiku menangis
Perempuan berkata hatiku menangis
Perempuan berkata hatiku menangis
Aek Nabara, 23 Juni 2008
Ketika Perempuan Menangis
Matanya menerawang
Berkaca-kaca membayang
Bercermin dari kisah-kisah
Bergincu memecah cerita
Menjadi harapan
Atau dendam…?!
Aek Nabara, 23 Juni 2008
Membelai Perempuan
Dengan hati…
Dengan cinta…
Kasar itu akan melembut
Marah itu akan menjadi senyum
Airmata itu akan mengering
Luluh dengan sendiri
Pasrah membentang
Begitu mudah…
Aek Nabara, 23 Juni 2008
Ibu
Perempuan sejati adalah ibu
Lembut membelai namun tegas membela
Tak kenal lelah menjalankan kehidupan
Kehidupannya, anak-anaknya, dan suaminya
Tak pernah gentar melindungi
Selalu rela kehilangan waktu tidurnya
Tak dendam saat usia mencuri paras cantiknya
Karena yang ia rasakan hanya naluri keihklasan
Yang ia inginkan hanya melihat mereka terkasih bahagia
Dan ia hanya berharap Tuhan menyayanginya juga mereka terkasih
Lewat doa panjang tak terputus
Hingga mata menutup dan jasad terkubur
Aek Nabara, 22 Juni 2008
Wonder Woman
Dia tangguh saat menjalankan roda kehidupan
Dia menang melawan hierarki diskriminasi
Dia maju bersama semangat berkobar
Dia cerdas saat memimpin dunia
Suaranya lantang menantang kebodohan
Geraknya gesit mengejar cita-cita
Langkahnya tegap menyongsong masa depan
Wajahnya beringas berkelahi dengan waktu
Katanya, demi membela kaumnya
Katanya, untuk meruntuhkan patriarkhi
Katanya, tak mau lagi terpinggirkan
Katanya, harus sejajar dengan laki-laki
Tapi dia tetap luluh saat anak merengek
Dia selalu mengalah saat suami meminta
Dia tak pernah mendahului Tuhan
Dan dia merasa bodoh jika sampai bercerai
Suaranya lirih saat meninabobokan buah hati
Geraknya juga memanja ketika suami mengharap
Langkahnya tetap gemulai berbalut kebaya
Dan wajahnya selalu ayu tersenyum menyapa hari
Aek Nabara, 22 Juni 2008
Perempuan Diam
Bukan tak bisa bersuara
Bukan tak sanggup berteriak
Bukan tak mampu bergerak
Bukan juga tak pandai menjawab
Tapi bersuara dalam hati
Berteriak dalam perih
Bergerak dengan mata
Menjawab dengan sabar
Melawan dengan mengalah
Aek Nabara, 22 Juni 2008
Perempuan Mati
Lebam membiru perih mengaduh
Kebun binatang memaki
Tertunduk-tunduk sampai lutut
Terhuyung berlari
Terlambat, belati menghunus
Aek Nabara, 17 Juni 2008
Perempuan
Seorang perempuan
Menampar sunyi dibawah gincu
Tertawa menantang gelap
Terjatuh dalam kisah
Hanyut bersama sumpah serapah
Aek Nabara, 17 Juni 2008
Saat Diam
Menampik jiwa pongah yang tak lain mencinta
Ingin dibelai tanpa membelai
Mau dimengerti tanpa mau mengerti
Merasakan kalbu yang tak jua merasa
Memikirkan pikiran yang tak lekas berpikir
Berharap maaf tapi enggan memaafkan
Diam mengunci pintu sanubari rapat-rapat
Seonggok hasrat sejati berbalut kabut
Memburamkan cinta yang justru benderang
Diam bersama bimbang
Melangkah dengan ragu-ragu
Lalu kembali diam menunggu waktu
Diam tak bergeming membekukan suasana
Mengharap ada hangat kasih yang melelehkan
Diam…menunggu…diam…menunggu…
Sampai tak sempat raga bersentuh
Berjarak diam berjauhan menanti
Jika ini, maka diam adalah mencinta
Diam adalah permintaan ingin dicinta
Diam tak lain rasa merindu
Diam juga rasa ingin dirindu
Diam hanya berusaha mengerti
Diam jua ingin dimengerti
Diam adalah harapan memaafkan dan dimaafkan
Aek Nabara, 22 juni 2008
Sedang ingin
Kubanting saja pintu hati
Kupecahkan kata-kata…bertubi-tubi
Lalu kunyalakan semua lentera raga
Agar kau mendadak terkejut
Tiba-tiba tersentak membelalak
Mulut meliur terhunus kata-kata
Lalu terkatup, diam seribu bahasa
Tengok saja setiap jengkal tubuhku
Menyembul ingin dirasa
Bergeliat mau sesuatu menelusup
Di ujung, ke dalam, dan lebih ke dalam lagi…
Aku ingin ada yang terbangun dari lelap
Mencari membuai sang pengharap
Merangkai hasrat hingga langit ubun
Lalu jatuh menghujam !
Tertawa tanpa suara
Merintih tanpa mengaduh
Hingga mati bersama peluh !
Aek nabara, 8 juni 2008
NN
Terpekur di sudut temaram malam
Tersiram bias cahaya lampu
Yang mulai redup, mulai lengang…
Rasanya tinggal belulang rapuh
Yang sesaat lagi akan patah berkeping
Kulitnya legam saat siang membakar
Dan mengkerut kala dingin malam menusuk
Membiru dan perlahan memucat pasi
Sayap-sayap nyamuk dan lalat mengepak
Menguing berkeliling dalam suka
Menggerogoti secuil demi secuil sampai pupus
Bulan masih mengelus pasrah
Membiarkan angin menerbangkan busuk menelusup
Agar sampai pada hidung mereka yang terlelap
Berselimut hangat dan memintal mimpi indah
Hingga pagi menyeruak di sela isak
Saat tangis semalam terhenti sudah
Jasadnya dingin membeku
Tergeletak diantara kerumun mereka
Yang hanya bisa mengelus dada
Tanpa berbuat…
Kini lahat itu masih basah
Tanah itu masih merah
Dan tinggal nisan usang terpampang
“NN bin anak jalanan, Juli 2008”
Aek Nabara, 15 Juli 2008
Kamis, 10 Juli 2008
Potret Sosial Remaja
23 Jan 2006 08:53:14
Fifin Chahyani R.N.
Membicarakan sinetron remaja tidak terlepas dari masalah melulu percintaan, pergaulan, gaya hidup, serta fashion. Tema-tema seperti itu menjadi wajar. Sebab, pada dasarnya, sinetron merupakan adopsi dari realitas kehidupan, yang kemudian dikemas dalam bentuk karya seni akting di televisi. Seperti ungkapan sutradara senior, Lukmantoro, dalam sebuah situs, "Bentuk-bentuk kesenian yang muncul tak bisa dilepaskan dari realitas sosial yang sedang berkembang."
Ketika dunia remaja identik dengan percintaan dan pergaulan yang terkesan hura-hura, maka hal itu direfleksikan dengan kemunculan sinetron-sinetron remaja yang bertemakan cinta dan pergaulan.
Memang tidak dapat kita mungkiri bahwa sebuah tayangan merupakan komoditas pasar yang cukup berpengaruh, terutama dalam hal meraup keuntungan. Pihak-pihak pembuat tayangan pun menyadari hal tersebut.
Bahkan, tayangan-tayangan itu sering terpengaruh budaya pop yang lebih menekankan estetika-resepsi daripada estetika-kreasi sehingga produk komersial lebih berarti dibandingkan produk yang betul-betul memperhatikan nilai seni dan kreativitas.
Kehidupan yang semakin modern membawa dunia remaja turut larut di dalamnya. Masa-masa pencarian jati diri— yang kerap memunculkan rasa keingintahuan begitu dalam terhadap sesuatu sehingga timbul perilaku-perilaku unik sekaligus aneh pada diri kaum remaja— menjadi tema menarik yang bisa diangkat ke layar kaca. Tentu saja, konsumen primer tayangan sinetron jenis tersebut tidak lain kaum remaja itu sendiri.
Berbekal bintang-bintang akting rupawan membawa dampak rasa ingin "meniru" dalam setiap benak remaja yang menonton. Sebab, mereka cenderung mengidolakan setiap bintang film rupawan dan menganggap bahwa apa yang dilakukan atau dikenakan sang idola merupakan suatu bentuk perwujudan jati diri mereka yang paling sempurna.
Seperti kita tahu, sinetron remaja yang banyak mengadopsi realitas sosial remaja ibu kota menginspirasi remaja-remaja di daerah untuk tampil seperti "yang ada di televisi".
Persoalan percintaan sering mengarah pada seks bebas, keputusasaan karena ditinggal pacar, transaksi cinta, melawan orang tua yang katanya "demi cinta", aborsi. Kemudian, persoalan pergaulan tidak luput dari narkoba, dugem, bergaya hidup mewah, serta persoalan fashion yang identik dengan tren pakaian-pakaian mini, ketat, aksesori-aksesori nan mahal, ponsel canggih, make up berlebihan. Semua itu merupakan gambaran sinetron remaja kita sekaligus refleksi kondisi sosial remaja kita saat ini.
Lihat saja bagaimana adik saya yang masih SMP meminta ponsel berkamera dengan paksa kepada orang tua karena dia memandang sudah saatnya anak seusianya ke mana-mana menenteng barang canggih tersebut.
Ketika ditanya ingin ponsel seperti apa, dia menunjuk sebuah adegan sinetron remaja yang kala itu aktrisnya tengah membawa ponsel di sekolah. Luar biasa sekali pantulan tingkah laku dan penampilan sang aktris dalam sinetron kepada anak SMP di daerah seperti adik saya tersebut.
Namun, kita tidak bisa serta merta menyalahkan pihak-pihak pembuat dan penayang sinetron remaja. Sebab, menurut Kracauer dan Purdy (1996), masyarakat sendirilah yang menghendaki sebuah film itu beredar.
Dengan kata lain, apabila saat ini banyak bermunculan sinetron remaja dan dinamikanya, berarti mentalitas remaja-remaja kita memang menghendaki yang demikian.
Tetapi, kita juga tidak lantas menyalahkan "kondisi sosial" remaja saat ini. Kondisi sosial mereka sekarang bisa jadi merupakan bentuk dari tingkat pengetahuan dan cara berpikir mereka yang semakin kritis. Sebab, teknologi semakin canggih sehingga budaya-budaya luar negeri begitu mudah memasuki dunia remaja kita.
Jadi, tidak salah juga jika remaja punya kondisi sosial yang mengkhawatirkan. Sebab, mereka merupakan sosok yang memang secara alamiah tengah mencari jati diri.
Lantas, siapa yang harus kita persalahkan ? Jawabannya tidak ada. Bukan saatnya kita memikirkan dan menuduh siapa yang salah karena setiap pihak pasti punya rasionalitas masing-masing.
Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi keadaan itu dengan bijak. Sinetron remaja tetap merupakan karya seni yang harus kita hargai sehingga tidak perlu rasanya jika sinetron remaja dihujat atau bahkan dihapus saja dari layar kaca.
Namun ada baiknya kalau konsep sinetron remaja dibuat "santun" agar dampak negative imitation-nya tidak terlalu berlebihan. Remaja sendiri tidak bisa dituntut untuk berubah seperti yang orang tua inginkan. Dunia remaja adalah dunia remaja, suka tidak suka memang harus dilalui. Tinggal bagaimana orang tua, guru, atau kita yang lebih tua bisa memberikan pendampingan, baik secara psikologis maupun sosiologis, agar remaja tidak salah arah dalam memaknai dunia mereka.
Cukup meluangkan waktu untuk sekadar mendampingi mereka ketika menonton televisi serta menjadi "teman" diskusi yang baik bagi mereka. Sederhana bukan?
Fifin Chahyani R.N., cerpenis alumnus Universitas Jember
re : dimuat di jawa pos 23 jan 2006
aku lagi maleeessss
Whuaaaaahhh...dah coba ngintip tulisan2 p.ewa di www.webersis.com biar semangat lagi, tapiiii hiks...hiks..ga mempan juga...ga kupaksain lah, rehat dulu...tapi deadline terus mengejar tanpa peduli aku lagi males ato lagi apapun ! ya iyalah...
Parahnya lagi nie,kalo lagi belanja ke pasar suka lupa bawa belanjaan yg dah dibeli ! sampe rumah bingung nyari belanjaan yg dah dibeli tadi, gak ada!
walllaaaaahhh...kehilangan konsentrasi emang bikin syusyah...bikin kacau ! untung aja nggak lupa ma suami dan anak hehehe...
katanya, kalo lagi buntu, ya ditulis aja buntunya itu...hasilnya ya ini, lagi buntu trus ditulis buntunya. Banyak nggerutunya, banyak ngomelnya, banyak ngeluhnya, hahaha...ga papa lah ya...pokoknya keep on writing, bukan begitu ???
Trus gimana soal deadline tuh ya ??? apa iya pake sistem kebut semalam aja ? hihihi...jadi inget jaman kuliah dulu, belajarnya suka sks alias sistem kebut semalam...tapi la kok ndilalah nilainya bagus-bagus terus hehehe...
walah...anakku dateng...pasti maunya sabotase pc-ku ni...tuh kan beneeeerrrr...ya dah nak...ni bunda ngalah...bunda kasiiii daaaahhh....met otak-atik pc yach...rusakin pun gak papa...biar ntar bisa belajar dari kerusakan itu, ya ! hehehe....
ok...see u next time...moga gak bad mood lagi...byeeeeee......