24 Juli 2009
Tiga tahun yang lalu, kala janji tersebut dari hati hingga dunia mendengar dari bibirmu yang hampir tak pernah ingkar, saat itu pun aku mematri cintaku hanya tuk bersandar di bahumu, mengikuti kemana arah langkahmu, merengkuhkan segenap jiwa dan ragaku dalam dekapanmu, hingga menggantungkan segala mimpi dan harapan di batas jengkal fikirmu…
Meski hidup tak sanggup kusangkal, tak bisa kurencanakan dengan segala skenario indah tentang kita, tapi setidaknya aku masih mampu menikmati setiap kesedihan yang kerap menyelinap tanpa pernah kuduga…kebahagiaan seperti sahabat setiap saat, dan kesedihan tak ubahnya orangtua yang banyak memberikan nasehat untukku…dan itu yang membuatku semakin kuat menghadapi biduk kehidupan…
Masih teringat dan terasa, enam tahun kebersamaan sebelum ikrar kala itu, seperti tak lekang oleh berjalannya waktu yang begitu angkuh semakin meninggalkan saat-saat itu…tetap serasa baru kemarin, masih kemarin, dan akan selalu kemarin…
Waktu dan persoalan demi persoalan semakin mendewasakan kita…kuanggap seperti pelangi yang makin berwarna, makin lengkap, dan itu artinya makin indah…
Sampai pada suatu masa, kehadirannya bak malaikat kecil yang senantiasa mampu mencairkan segala keangkuhan dan kesombongan setiap rasa egois itu menjelma…dan desahan nafasnya saat ia terlelap membuatku takluk dan merasakan kekayaan cinta yang amat sangat tak ternilai dengan apapun juga…karena di jiwanya ada kita, di raganya ada kita…dan itu takkan pernah tergantikan…
Tiga tahun, kini, ternyata hatiku tlah berubah…cintaku tak lagi seperti dulu saat pertama kali kita dipertemukan…saat ini cintaku semakin tumbuh subur padamu, semakin bertambah dengan hadirnya peri kecil kita…semuanya berubah menjadi lebih bermakna…
Tak ada inginku yang mengharuskan apapun terjadi seperti kuminta, aku hanya membiarkan cinta kita berjalan apa adanya, membiarkan permasalahan merintangi untuk kita hadang, membiarkan bahagia menyelimuti untuk kita nikmati, membiarkan kita jatuh untuk bangun, membiarkan kita menangis untuk kita seka dengan kasih, membiarkan kita hampa untuk merindu…
Biarkan cinta ini kini menjelma menjadi sebuah tanggungjawab hingga saatnya tiba nanti…
Aek Nabara, 24 Juli 2009
Tampilkan postingan dengan label ngobrol serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngobrol serius. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Juli 2009
Kamis, 23 April 2009
Lomba Pidato & Fashion Show Hari Kartini 2009
jujur ini pertama kalinya fien jadi mc, meski ada sedikit grogi, tapi syukurlah semuanya bisa diatasi dg berdoa sehingga bisa tenang...dan pujian pun mengalir *hihihi*..ibu manajer senang, ibu askep senang, itu yg terpenting..malah fien ketagihan nih pengen jadi mc lagi kalo pas ada acara2...seneng aja bisa tampil di depan orang banyak...
gak tau juga, mungkin krn prepare-nya serius maka semuanya berjalan persis dg apa yg sudah fien bayangkan..hmm..alhamdulillah banget..
yg seruw ibu2 semuanya tampil berkebaya, jadi makin cantik2..dan berasa banget hari kartini-nya..apalagi pesertanya, hmm..fien yakin semuanya udah tampil maksimal, ada yg santai, ada yg grogi, ada yg malu-malu, ada yg lantang, ada yg kemayu..hihihi..warna-warni deh..
fien bangga deh, ibu2 berani tampil dlm lomba..meski pengalaman nol tapi semangatnya okeh banget..
Oya, ini dia naskah pidato anggota yg fien buat dan jadi juara 3 :
NASKAH PESERTA
LOMBA PIDATO HARI KARTINI 2009
“PEREMPUAN INDONESIA DAN PERJUANGANNYA”
21 April adalah tanggal kelahiran RA Kartini. Seorang perempuan bangsa yang tak lelah memperjuangkan hak kaumnya. Seorang pahlawan yang menjadi tonggak kebangkitan perempuan Indonesia. Dengan ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan yang beliau miliki, pada akhirnya mampu melawan segala keterbatasannya dalam berjuang. Berjuang melawan musuh terbesar dalam kehidupan, yaitu kebodohan dan keterbelakangan...
Ya, ibu kita Kartini adalah perempuan biasa yang memiliki begitu banyak keterbatasan dalam kehidupannya. Beliau terkungkung oleh budaya, terkungkung oleh aturan, terkungkung oleh keadaan yang sama sekali tidak memihak kepada dirinya. Hal itu membuatnya kehilangan hak, kehilangan kehidupan, dan kehilangan masa depan.
Namun, beliau bukanlah perempuan lemah yang begitu saja menyerah pada keadaan. Justru segala keterbatasan itu membuat semangatnya bangkit untuk segera berjuang memperbaiki nasibnya dan nasib kaumnya kala itu. Baginya, perempuan Indonesia harus keluar dari nebula kebodohan agar hak-haknya dapat diraih sehingga meningkatkan derajat dan martabatnya yang selama ini terenggut oleh budaya patriarkhi, yaitu budaya yang mengagungkan laki-laki di atas segala-galanya tanpa memperdulikan keberadaan seorang perempuan.
Pelan namun pasti. Dengan kegigihan, kesabaran, ketulusan, dan keihklasan, pada akhirnya mengantarkan RA Kartini pada mimpi-mimpi dan harapannya untuk melihat kaumnya sejajar dengan kaum laki-laki.
Akan tetapi, perjuangan belum berakhir. Sebab putaran roda zaman akan mengiringi perjuangan kaum perempuan. Kita harus menyadari bahwa akan lebih banyak rintangan yang menghadang. Bersifat kompleks dan kerap kali semu. Jika kita tidak waspada dan jeli, maka kita akan terperosok ke dalam jurang kebodohan yang lebih dalam lagi.
Seperti yang kita tahu saat ini, begitu banyak persoalan hidup malang melintang dalam keseharian kita. Mulai dari hal yang sederhana hingga ke hal yang paling prinsip sekalipun. Belenggu narkoba, kasus pornoaksi dan pornografi, KKN, pembalakan liar, berita-berita kawin siri yang mencuat, seks bebas, beredarnya situs-situs porno, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga pada trafiking atau penjualan perempuan dan anak untuk dijadikan pelacur, dll. Sungguh miris mendengarnya. Sementara kita, anak-anak kita, hidup diantara belenggu-belenggu setan tersebut.
Tentu kita tidak ingin anak-anak yang kita cintai, yang suatu saat akan menjadi penerus bangsa kita ini menjadi korban belenggu-belenggu duniawi itu. Maka sudah pasti, perjuangan kita sebagai ibu akan diuji disini. Bagaimana kita bisa mensikapi nuansa kehidupan yang beragam dengan bijaksana dan konsekwen.
Tak perlu menjadi wanita karir terlebih dahulu, tak perlu menunggu hingga terpilih menjadi anggota dewan, sebab apapun profesi kita saat ini, kita masih bisa berjuang demi anak-anak bangsa.
Tidak usah jauh-jauh, Ibu rumah tangga adalah sebuah profesi yang mulia. Dan disinilah perempuan memiliki dedikasi yang luar biasa. Berperan ganda sebagai seorang ibu dan seorang istri. Bekerja tanpa kenal lelah sepanjang hari. Sebagai baby sitter bagi anak-anaknya, sebagai koki keluarga, sebagai Asisten tata usaha keluarga, sebagai asisten personalia keluarga, sebagai pelayan suami, sebagai penengah ketika terjadi konflik, dsb. Lihatlah betapa besar perjuangan seorang perempuan dalam keluarga. Dari sini kita bisa melihat betapa perempuan sejatinya memiliki jiwa kepemimpinan yang hebat.
Untuk itulah, wahai perempuan Indonesia...mari kita sama-sama selamatkan bangsa ini dengan segenap kemampuan kita. Kita didik anak-anak kita menjadi anak-anak bangsa yang berbudi pengerti luhur dan berjiwa ketimuran. Sebab ini adalah tugas kita sebagai perempuan Indonesia dan sebagai ibu dari anak-anak kita.
Ingatlah bahwa ”Keberhasilan sebuah bangsa adalah karena peran wanita dibelakangnya”.
Ingatlah juga bahwa berjuang meraih hak perempuan tidak sama dengan menyalahi takdir Tuhan. Kita berjuang tapi tetap pada koridor kodrati.
Kita harus bisa menjadi perempuan mandiri, kuat dan tangguh dalam mengarungi kehidupan. Tak harus menjadi kejam, otoriter, angkuh, ataupun keras hati untuk menjadi mandiri dan tangguh. Tapi justru kelembutan, kesabaran, dan keikhlasan akan membawa kita menjadi perempuan yang tak terkalahkan. Seperti halnya perjuangan Ibu Kartini...
Aek Nabara Utara, 22 April 2009
Kamis, 19 Maret 2009
Again, tentang Perempuan !
Fien sempet terusik dg curhatan kawan ttg perempuan kini.
Generasi aura kasih
“telah kuberi rambutku, telah kuberi bibirku, telah kuberi dadaku, telah kuberi tubuhku, habis sudah.”
--sebuah lirik lagu mata keranjang yang dipopulerkan aura kasih
Inilah generasi wanita-wanita zaman sekarang, wanita-wanita yang menikmati hidup glamour, hura-hura, pesta tiap malam. Dan sungguh nista sekali tak mampu mempertahankan keperawanan yang dimilikinya. Semuanya diumbar habis-habisan kepada semua lelaki yang punya uang. Kasihan sekali generasi wanita zaman ini. Dan ketika memasuki kampus maka kau akan tercengang dengan bagaimana wanita-wanita itu berpakaian. Minim, tipis, ketat, dan kekurangan kain. Inilah zaman edan. Zaman berahi mudah sekali dibangkitkan. Zaman yang harus kuat iman jika mau bertahan dengan keperjakaan dan keperawanan. Bisakah kita pemuda pemudi Indonesia kembali merenungi diri sebagai manusia yang beradab, manusia berperadaban timur.. Aku pun menginginkan wanita. Tapi jauh di lubuk hati kecilku hanya menginginkan wanita-wanita yang beradab. Seperti aisyah mungkin.
hmm..wajar jika seorang laki2 muslim mendambakan perempuan seperti aisyah, cantik, sholehah, sempurna sbg perempuan, seperti juga kawanku yg satu ini. Tapi yg fien nggak setuju, kok pake acara "komen ndak sedep ttg perempuan"..apalagi dia bilang bhw perempuan suka mengumbar segalanya pd laki2 beruang. perempuan tak bisa mempertahankan keperawanannya, perempuan sekarang pake bajunya minim2.inilah zaman edan.fien menangkap seolah2 perempuan adalah simbol dr "edannya sebuah jaman". halaaaah...coba dipikir lebih lanjut, kalo perempuan yg ndak bisa mempertahankan keperawanannya dibilang nista, bagaimana dg laki2 bejat bin hidung belang yg sudah menghilangkan keperawan perempuan itu ????? lebih nista kaleee...*nah, kenapa laki2 ini gak dibahas juga, dikomen juga, kenapa komen gak sedepnya cm ditujukan pd perempuan aja???*
hmm..anggapan pd aura kasih aja udah kayak begitu, apalagi dia memandang seorang pelacur yaaa ??? mungkin dia akan memandang dg hina, jijik, memicingkan mata, menghujat,dsb..pernahkah dia berbicara dg hati, memandang dg hati, memikirkan kenapa seorang perempuan bisa menjadi pelacur...logikanya, tak ada SATU PUN di dunia ini yg bercita2 menjadi seorang pelacur. Begitu juga mereka. Tapi kenapa jadi pelacur ??? nah, inilah yg harus kita cermati, kita dalami, kita selami, pasti ada sebab dibalik seseorang melakukannya. Kalau berdasarkan informan, kondisi dan keadaan lah yg menyebabkan pilihan hidup itu terpaksa mereka tempuh. Kondisi yg bagaimana ? keadaan yg seperti apa ? Sangat komplek. bahkan mungkin kita nggak bisa menerimanya, sebab kita memang gak pernah mengalami keadaan seperti yg sudah mereka alami...
Kalau fien bilang, perempuan hanyalah korban bukan penjahat moral yg terus disudutkan setiap saat. korban budaya patriarkhi, korban krisis ekonomi, krisis politik, krisis budaya, krisis norma, krisis krisis dan krisis...
banyak kebijakan dan norma yg berlaku justru merugikan kaum perempuan. perempuan termarginalkan, terstereotip, terlecehkan, dsb. kebijakan2 itu tak memihak pada meningkatkan derajat perempuan.bahkan opini-opini yg dibuat seolah-olah menganggap bahwa perempuan adalah penyebab kehancuran dunia ini. Astaghfirullah...
Renungkanlah...siapa ibu kita ? siapa istri kita ? tak lain perempuan yg selalu mendoakan kita, mereka yg punya beban ganda, sebagai istri, sebagai ibu, dan sebagai pekerja...dibalik kesuksesan laki-laki adalah adanya perempuan...
jadi, apapun profesinya, apapun kondisinya, tetaplah menghargai sosok perempuan. jangan mendeskritkannya, apalagi berkata nista padanya. Biarlah yang lain, bersalah atau tidak, baik atau nggak, dosa apa enggak, dsb menjadi urusan Tuhan...
Generasi aura kasih
“telah kuberi rambutku, telah kuberi bibirku, telah kuberi dadaku, telah kuberi tubuhku, habis sudah.”
--sebuah lirik lagu mata keranjang yang dipopulerkan aura kasih
Inilah generasi wanita-wanita zaman sekarang, wanita-wanita yang menikmati hidup glamour, hura-hura, pesta tiap malam. Dan sungguh nista sekali tak mampu mempertahankan keperawanan yang dimilikinya. Semuanya diumbar habis-habisan kepada semua lelaki yang punya uang. Kasihan sekali generasi wanita zaman ini. Dan ketika memasuki kampus maka kau akan tercengang dengan bagaimana wanita-wanita itu berpakaian. Minim, tipis, ketat, dan kekurangan kain. Inilah zaman edan. Zaman berahi mudah sekali dibangkitkan. Zaman yang harus kuat iman jika mau bertahan dengan keperjakaan dan keperawanan. Bisakah kita pemuda pemudi Indonesia kembali merenungi diri sebagai manusia yang beradab, manusia berperadaban timur.. Aku pun menginginkan wanita. Tapi jauh di lubuk hati kecilku hanya menginginkan wanita-wanita yang beradab. Seperti aisyah mungkin.
hmm..wajar jika seorang laki2 muslim mendambakan perempuan seperti aisyah, cantik, sholehah, sempurna sbg perempuan, seperti juga kawanku yg satu ini. Tapi yg fien nggak setuju, kok pake acara "komen ndak sedep ttg perempuan"..apalagi dia bilang bhw perempuan suka mengumbar segalanya pd laki2 beruang. perempuan tak bisa mempertahankan keperawanannya, perempuan sekarang pake bajunya minim2.inilah zaman edan.fien menangkap seolah2 perempuan adalah simbol dr "edannya sebuah jaman". halaaaah...coba dipikir lebih lanjut, kalo perempuan yg ndak bisa mempertahankan keperawanannya dibilang nista, bagaimana dg laki2 bejat bin hidung belang yg sudah menghilangkan keperawan perempuan itu ????? lebih nista kaleee...*nah, kenapa laki2 ini gak dibahas juga, dikomen juga, kenapa komen gak sedepnya cm ditujukan pd perempuan aja???*
hmm..anggapan pd aura kasih aja udah kayak begitu, apalagi dia memandang seorang pelacur yaaa ??? mungkin dia akan memandang dg hina, jijik, memicingkan mata, menghujat,dsb..pernahkah dia berbicara dg hati, memandang dg hati, memikirkan kenapa seorang perempuan bisa menjadi pelacur...logikanya, tak ada SATU PUN di dunia ini yg bercita2 menjadi seorang pelacur. Begitu juga mereka. Tapi kenapa jadi pelacur ??? nah, inilah yg harus kita cermati, kita dalami, kita selami, pasti ada sebab dibalik seseorang melakukannya. Kalau berdasarkan informan, kondisi dan keadaan lah yg menyebabkan pilihan hidup itu terpaksa mereka tempuh. Kondisi yg bagaimana ? keadaan yg seperti apa ? Sangat komplek. bahkan mungkin kita nggak bisa menerimanya, sebab kita memang gak pernah mengalami keadaan seperti yg sudah mereka alami...
Kalau fien bilang, perempuan hanyalah korban bukan penjahat moral yg terus disudutkan setiap saat. korban budaya patriarkhi, korban krisis ekonomi, krisis politik, krisis budaya, krisis norma, krisis krisis dan krisis...
banyak kebijakan dan norma yg berlaku justru merugikan kaum perempuan. perempuan termarginalkan, terstereotip, terlecehkan, dsb. kebijakan2 itu tak memihak pada meningkatkan derajat perempuan.bahkan opini-opini yg dibuat seolah-olah menganggap bahwa perempuan adalah penyebab kehancuran dunia ini. Astaghfirullah...
Renungkanlah...siapa ibu kita ? siapa istri kita ? tak lain perempuan yg selalu mendoakan kita, mereka yg punya beban ganda, sebagai istri, sebagai ibu, dan sebagai pekerja...dibalik kesuksesan laki-laki adalah adanya perempuan...
jadi, apapun profesinya, apapun kondisinya, tetaplah menghargai sosok perempuan. jangan mendeskritkannya, apalagi berkata nista padanya. Biarlah yang lain, bersalah atau tidak, baik atau nggak, dosa apa enggak, dsb menjadi urusan Tuhan...
Sabtu, 25 Oktober 2008
Alat Kontrasepsi
Ada iklan alat kontrasepsi KB di tv. Kata seorang perempuan, “menikah keputusan berdua, hamil dan melahirkan juga keputusan berdua, tapi memilih alat kontrasepsi itu jadi keputusanku sendiri…” (kurang lebih seperti itu)
Janggal menurutku. Iklan itu menurutku memicu persoalan jender. Dalam iklan itu seolah-olah alat kontrasepsi mutlak hanya diperuntukkan oleh perempuan saja. Bahkan laki-laki ga perlu lagi pusing-pusing mikirin bagaimana caranya mencegah supaya “perbuatannya” ga bikin si perempuan hamil. Sementara perempuan masih diberi beban untuk memikirkan dirinya sendiri “hanya” agar bisa melayani suami tanpa takut hamil lagi.
Harusnya menurutku, suami dan istri tetap dilibatkan dalam usaha mencari alat kontrasepsi KB yang tepat. Bagaimanapun sang istri kan berhak mengutarakan pendapatnya. Misalnya, “papa aja deh yang pake alat kontrasepsi.” Sekarang pun sebenarnya juga ada alat kontrasepsi untuk laki-laki selain kondom. Tapi sayang, tak pernah ada sosialisasi yang gencar dari pihak-pihak terkait sehingga banyak masyarakat tak tahu akan hal ini.
Kenapa sih, yang harus pake alat kontrasepsi kok musti perempuan ? ini jelas ada kecenderungan ketidaksetaraan jender dalam hal kesehatan reproduksi. Kasarnya nih, perempuan yang dihamili perempuan juga yg musti mencegah kehamilan. Kenapa gak yg menghamili saja yg berupaya mencegah kehamilan ??? Hmm..enak banget ya ??? Lagian menurutku (lagi) ni bukan takdir tapi fenomena yg sejatinya bisa diupayakan kebijakan yg lebih baik lagi. Tentu saja memihak perempuan dunkz…hhh…Lagi-lagi perempuan yg jadi obyek sebab-akibat….
Janggal menurutku. Iklan itu menurutku memicu persoalan jender. Dalam iklan itu seolah-olah alat kontrasepsi mutlak hanya diperuntukkan oleh perempuan saja. Bahkan laki-laki ga perlu lagi pusing-pusing mikirin bagaimana caranya mencegah supaya “perbuatannya” ga bikin si perempuan hamil. Sementara perempuan masih diberi beban untuk memikirkan dirinya sendiri “hanya” agar bisa melayani suami tanpa takut hamil lagi.
Harusnya menurutku, suami dan istri tetap dilibatkan dalam usaha mencari alat kontrasepsi KB yang tepat. Bagaimanapun sang istri kan berhak mengutarakan pendapatnya. Misalnya, “papa aja deh yang pake alat kontrasepsi.” Sekarang pun sebenarnya juga ada alat kontrasepsi untuk laki-laki selain kondom. Tapi sayang, tak pernah ada sosialisasi yang gencar dari pihak-pihak terkait sehingga banyak masyarakat tak tahu akan hal ini.
Kenapa sih, yang harus pake alat kontrasepsi kok musti perempuan ? ini jelas ada kecenderungan ketidaksetaraan jender dalam hal kesehatan reproduksi. Kasarnya nih, perempuan yang dihamili perempuan juga yg musti mencegah kehamilan. Kenapa gak yg menghamili saja yg berupaya mencegah kehamilan ??? Hmm..enak banget ya ??? Lagian menurutku (lagi) ni bukan takdir tapi fenomena yg sejatinya bisa diupayakan kebijakan yg lebih baik lagi. Tentu saja memihak perempuan dunkz…hhh…Lagi-lagi perempuan yg jadi obyek sebab-akibat….
Kamis, 28 Agustus 2008
Euforia Barack Obama
Barusan nonton pidato-nya barack obama, salah satu kandidat calon presiden amrik dr partai demokrat. Sebelumnya sempat penasaran dg sosoknya yg akhir2 ini banyak menjadi perbincangan di seluruh penjuru dunia. Bahkan menurut aku saat ini sudah terjadi demam obama dan euforia thd calon presiden kulit hitam ini.
Melihat fisiknya, gayanya dan tutur katanya dlm menyampaikan orasi di puluhan ribu simpatisannya membuat bulu kudukku berdiri. Secerca asa sempat terlintas di otakku ttg amerika. Mungkin, ini adalah lahirnya amerika baru, tanpa perang, tanpa over kekuasaan, tanpa dominan insting yg hanya akan merugikan negara2 lain.
Cerdas. hanya itu yang bisa kutangkap dr sosok barack obama. Dengan usianya yg masih tergolong muda, tingkat intelektual yg tinggi, dan sedikit wajah "komersil" alias agak seleb2 gitu sangat wajar kalo dia menjadi kandidat paling berpengaruh saat ini. Bahkan, baru kali ini orang kulit hitam maju di kancah politik sekelas USA gitu loh.
Melesatnya kepopuleran obama tidak lepas dr banyaknya dukungan dr seluruh warga amerika. Dan ini membuktikan bahwa sebenarnya masyarakat amerika sendiri sudah bosan dg era kepemimpinan ala diktator jaman Bush cs. Masyarakat menginginkan perubahan. Perubahan mendasar yg lebih baik tentunya. Perang dan kekuasaan tanpa batas selama ini hanya menjadi tujuan para elit politik saja.
Hati nurani sesungguhnya tak demikian adanya. Obama berhasil mengakomodir semua keluh kesah masyarakat amerika menjadi sebuah janji-janji yg ia serukan dlm setiap orasinya. Gaya berorasi yang santun, sederhana, namun mencerminkan obama yg cerdas mampu membius hampir keseluruhan masyarakat amerika.
Memperbaiki sistem pendidikan yg ada, menghapus perang, meminimalisasikan upaya impor (merebut paksa ????) minyak dr timur tengah, dan bla bla bla disampaikannya dengan penuh percaya diri dan meyakinkan.
Wow ! obama oh obama...sosok cerdas yg ternyata nih juga pernah sekolah SD di Indonesia loh, semoga kejujuran dan loyalitas yg tinggi terhadap negara dan juga peradaban dunia bisa membawa perubahan bagi bumi ini. Mengingat amerika adalah negara adikuasa, tak semestinya menjadi musuh bagi negara-negara lain.
Aku, yg jelata, yg tak tau apa-apa tentang obama, berharap perdamaian dapat tercipta di bumi ini. Tak ada lagi perang di timur-tengah, tak ada lagi diktator politik...kadangkala teori dan sistem memang penting, tapi hati nurani harusnya tak mati terlindas kepentingan jabatan sesaat...
apakah yakin obama akan menang dlm pemilu kali ini ??? Who knows...bagaimanapun politik tak ubahnya telapak tangan yg begitu mudahnya dibolak-balikkan...
Melihat fisiknya, gayanya dan tutur katanya dlm menyampaikan orasi di puluhan ribu simpatisannya membuat bulu kudukku berdiri. Secerca asa sempat terlintas di otakku ttg amerika. Mungkin, ini adalah lahirnya amerika baru, tanpa perang, tanpa over kekuasaan, tanpa dominan insting yg hanya akan merugikan negara2 lain.
Cerdas. hanya itu yang bisa kutangkap dr sosok barack obama. Dengan usianya yg masih tergolong muda, tingkat intelektual yg tinggi, dan sedikit wajah "komersil" alias agak seleb2 gitu sangat wajar kalo dia menjadi kandidat paling berpengaruh saat ini. Bahkan, baru kali ini orang kulit hitam maju di kancah politik sekelas USA gitu loh.
Melesatnya kepopuleran obama tidak lepas dr banyaknya dukungan dr seluruh warga amerika. Dan ini membuktikan bahwa sebenarnya masyarakat amerika sendiri sudah bosan dg era kepemimpinan ala diktator jaman Bush cs. Masyarakat menginginkan perubahan. Perubahan mendasar yg lebih baik tentunya. Perang dan kekuasaan tanpa batas selama ini hanya menjadi tujuan para elit politik saja.
Hati nurani sesungguhnya tak demikian adanya. Obama berhasil mengakomodir semua keluh kesah masyarakat amerika menjadi sebuah janji-janji yg ia serukan dlm setiap orasinya. Gaya berorasi yang santun, sederhana, namun mencerminkan obama yg cerdas mampu membius hampir keseluruhan masyarakat amerika.
Memperbaiki sistem pendidikan yg ada, menghapus perang, meminimalisasikan upaya impor (merebut paksa ????) minyak dr timur tengah, dan bla bla bla disampaikannya dengan penuh percaya diri dan meyakinkan.
Wow ! obama oh obama...sosok cerdas yg ternyata nih juga pernah sekolah SD di Indonesia loh, semoga kejujuran dan loyalitas yg tinggi terhadap negara dan juga peradaban dunia bisa membawa perubahan bagi bumi ini. Mengingat amerika adalah negara adikuasa, tak semestinya menjadi musuh bagi negara-negara lain.
Aku, yg jelata, yg tak tau apa-apa tentang obama, berharap perdamaian dapat tercipta di bumi ini. Tak ada lagi perang di timur-tengah, tak ada lagi diktator politik...kadangkala teori dan sistem memang penting, tapi hati nurani harusnya tak mati terlindas kepentingan jabatan sesaat...
apakah yakin obama akan menang dlm pemilu kali ini ??? Who knows...bagaimanapun politik tak ubahnya telapak tangan yg begitu mudahnya dibolak-balikkan...
Senin, 18 Agustus 2008
dan, cinta sejati itu...
Cinta sejati adalah mampu mencintai segenap kekurangannya. Meyakini bahwa ia bukanlah sebuah kesempurnaan. Menganggap ia lebih dari sekadar harapan, tapi tujuan dalam setiap langkah. Selebihnya ia ada di hati, terpancar di mata, tersirat dalam laku, dan tercipta bersama kesetiaan...
Saat malam, saat aku berada dalam lengang. Tak ada kebisingan hati yang kerap membuatku muntah, menumpahkan semua keruwetan hidup, hingga habis tak bersisa...
Dan malam, dan gelap, dan dingin, menelusup dalam batin yang sempat terkoyakkan oleh sebongkah ego tanpa batas. Aku ditemani bulir-bulir airmata membersit ketakutan akan kesendirian, tanpanya...
Merasa sudah memberikan cinta sejati, aku seperti perempuan yang terpinggirkan hingga tak sedikitpun mendapat tempat di kehidupannya. Sia-sia saja.
Padahal ia bersamaku, telanjang di sisiku, memahat setiap jengkal kulitku, dan lalu menghamburkan cinta malam demi malam denganku...aku seperti tenggelam karena cintanya bertubi-tubi
Bintang menorehkan cahaya mungil di langit yang hitam...menertawaiku seolah ingin mengataiku "Dasar cengeng!" ini adalah hidup yang penuh dengan dilema. Kadangkala, kita harus tak bersahabat dengan ego, agar cintanya tak pupus di ujung waktu...itu pilihan kalau kita ingin terus mendapatkan kasihnya...jika pilihannya tidak, ya biarkan saja semuanya berlalu !
Cinta sejati takkan pernah hadir tanpa aku mampu
berbesar hati berkorban karenanya...kira-kira seperti itu...
Saat malam, saat aku berada dalam lengang. Tak ada kebisingan hati yang kerap membuatku muntah, menumpahkan semua keruwetan hidup, hingga habis tak bersisa...
Dan malam, dan gelap, dan dingin, menelusup dalam batin yang sempat terkoyakkan oleh sebongkah ego tanpa batas. Aku ditemani bulir-bulir airmata membersit ketakutan akan kesendirian, tanpanya...
Merasa sudah memberikan cinta sejati, aku seperti perempuan yang terpinggirkan hingga tak sedikitpun mendapat tempat di kehidupannya. Sia-sia saja.
Padahal ia bersamaku, telanjang di sisiku, memahat setiap jengkal kulitku, dan lalu menghamburkan cinta malam demi malam denganku...aku seperti tenggelam karena cintanya bertubi-tubi
Bintang menorehkan cahaya mungil di langit yang hitam...menertawaiku seolah ingin mengataiku "Dasar cengeng!" ini adalah hidup yang penuh dengan dilema. Kadangkala, kita harus tak bersahabat dengan ego, agar cintanya tak pupus di ujung waktu...itu pilihan kalau kita ingin terus mendapatkan kasihnya...jika pilihannya tidak, ya biarkan saja semuanya berlalu !
Cinta sejati takkan pernah hadir tanpa aku mampu
berbesar hati berkorban karenanya...kira-kira seperti itu...
Kamis, 10 Juli 2008
Potret Sosial Remaja
Potret Sosial Remaja
23 Jan 2006 08:53:14
Fifin Chahyani R.N.
Membicarakan sinetron remaja tidak terlepas dari masalah melulu percintaan, pergaulan, gaya hidup, serta fashion. Tema-tema seperti itu menjadi wajar. Sebab, pada dasarnya, sinetron merupakan adopsi dari realitas kehidupan, yang kemudian dikemas dalam bentuk karya seni akting di televisi. Seperti ungkapan sutradara senior, Lukmantoro, dalam sebuah situs, "Bentuk-bentuk kesenian yang muncul tak bisa dilepaskan dari realitas sosial yang sedang berkembang."
Ketika dunia remaja identik dengan percintaan dan pergaulan yang terkesan hura-hura, maka hal itu direfleksikan dengan kemunculan sinetron-sinetron remaja yang bertemakan cinta dan pergaulan.
Memang tidak dapat kita mungkiri bahwa sebuah tayangan merupakan komoditas pasar yang cukup berpengaruh, terutama dalam hal meraup keuntungan. Pihak-pihak pembuat tayangan pun menyadari hal tersebut.
Bahkan, tayangan-tayangan itu sering terpengaruh budaya pop yang lebih menekankan estetika-resepsi daripada estetika-kreasi sehingga produk komersial lebih berarti dibandingkan produk yang betul-betul memperhatikan nilai seni dan kreativitas.
Kehidupan yang semakin modern membawa dunia remaja turut larut di dalamnya. Masa-masa pencarian jati diri— yang kerap memunculkan rasa keingintahuan begitu dalam terhadap sesuatu sehingga timbul perilaku-perilaku unik sekaligus aneh pada diri kaum remaja— menjadi tema menarik yang bisa diangkat ke layar kaca. Tentu saja, konsumen primer tayangan sinetron jenis tersebut tidak lain kaum remaja itu sendiri.
Berbekal bintang-bintang akting rupawan membawa dampak rasa ingin "meniru" dalam setiap benak remaja yang menonton. Sebab, mereka cenderung mengidolakan setiap bintang film rupawan dan menganggap bahwa apa yang dilakukan atau dikenakan sang idola merupakan suatu bentuk perwujudan jati diri mereka yang paling sempurna.
Seperti kita tahu, sinetron remaja yang banyak mengadopsi realitas sosial remaja ibu kota menginspirasi remaja-remaja di daerah untuk tampil seperti "yang ada di televisi".
Persoalan percintaan sering mengarah pada seks bebas, keputusasaan karena ditinggal pacar, transaksi cinta, melawan orang tua yang katanya "demi cinta", aborsi. Kemudian, persoalan pergaulan tidak luput dari narkoba, dugem, bergaya hidup mewah, serta persoalan fashion yang identik dengan tren pakaian-pakaian mini, ketat, aksesori-aksesori nan mahal, ponsel canggih, make up berlebihan. Semua itu merupakan gambaran sinetron remaja kita sekaligus refleksi kondisi sosial remaja kita saat ini.
Lihat saja bagaimana adik saya yang masih SMP meminta ponsel berkamera dengan paksa kepada orang tua karena dia memandang sudah saatnya anak seusianya ke mana-mana menenteng barang canggih tersebut.
Ketika ditanya ingin ponsel seperti apa, dia menunjuk sebuah adegan sinetron remaja yang kala itu aktrisnya tengah membawa ponsel di sekolah. Luar biasa sekali pantulan tingkah laku dan penampilan sang aktris dalam sinetron kepada anak SMP di daerah seperti adik saya tersebut.
Namun, kita tidak bisa serta merta menyalahkan pihak-pihak pembuat dan penayang sinetron remaja. Sebab, menurut Kracauer dan Purdy (1996), masyarakat sendirilah yang menghendaki sebuah film itu beredar.
Dengan kata lain, apabila saat ini banyak bermunculan sinetron remaja dan dinamikanya, berarti mentalitas remaja-remaja kita memang menghendaki yang demikian.
Tetapi, kita juga tidak lantas menyalahkan "kondisi sosial" remaja saat ini. Kondisi sosial mereka sekarang bisa jadi merupakan bentuk dari tingkat pengetahuan dan cara berpikir mereka yang semakin kritis. Sebab, teknologi semakin canggih sehingga budaya-budaya luar negeri begitu mudah memasuki dunia remaja kita.
Jadi, tidak salah juga jika remaja punya kondisi sosial yang mengkhawatirkan. Sebab, mereka merupakan sosok yang memang secara alamiah tengah mencari jati diri.
Lantas, siapa yang harus kita persalahkan ? Jawabannya tidak ada. Bukan saatnya kita memikirkan dan menuduh siapa yang salah karena setiap pihak pasti punya rasionalitas masing-masing.
Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi keadaan itu dengan bijak. Sinetron remaja tetap merupakan karya seni yang harus kita hargai sehingga tidak perlu rasanya jika sinetron remaja dihujat atau bahkan dihapus saja dari layar kaca.
Namun ada baiknya kalau konsep sinetron remaja dibuat "santun" agar dampak negative imitation-nya tidak terlalu berlebihan. Remaja sendiri tidak bisa dituntut untuk berubah seperti yang orang tua inginkan. Dunia remaja adalah dunia remaja, suka tidak suka memang harus dilalui. Tinggal bagaimana orang tua, guru, atau kita yang lebih tua bisa memberikan pendampingan, baik secara psikologis maupun sosiologis, agar remaja tidak salah arah dalam memaknai dunia mereka.
Cukup meluangkan waktu untuk sekadar mendampingi mereka ketika menonton televisi serta menjadi "teman" diskusi yang baik bagi mereka. Sederhana bukan?
Fifin Chahyani R.N., cerpenis alumnus Universitas Jember
re : dimuat di jawa pos 23 jan 2006
23 Jan 2006 08:53:14
Fifin Chahyani R.N.
Membicarakan sinetron remaja tidak terlepas dari masalah melulu percintaan, pergaulan, gaya hidup, serta fashion. Tema-tema seperti itu menjadi wajar. Sebab, pada dasarnya, sinetron merupakan adopsi dari realitas kehidupan, yang kemudian dikemas dalam bentuk karya seni akting di televisi. Seperti ungkapan sutradara senior, Lukmantoro, dalam sebuah situs, "Bentuk-bentuk kesenian yang muncul tak bisa dilepaskan dari realitas sosial yang sedang berkembang."
Ketika dunia remaja identik dengan percintaan dan pergaulan yang terkesan hura-hura, maka hal itu direfleksikan dengan kemunculan sinetron-sinetron remaja yang bertemakan cinta dan pergaulan.
Memang tidak dapat kita mungkiri bahwa sebuah tayangan merupakan komoditas pasar yang cukup berpengaruh, terutama dalam hal meraup keuntungan. Pihak-pihak pembuat tayangan pun menyadari hal tersebut.
Bahkan, tayangan-tayangan itu sering terpengaruh budaya pop yang lebih menekankan estetika-resepsi daripada estetika-kreasi sehingga produk komersial lebih berarti dibandingkan produk yang betul-betul memperhatikan nilai seni dan kreativitas.
Kehidupan yang semakin modern membawa dunia remaja turut larut di dalamnya. Masa-masa pencarian jati diri— yang kerap memunculkan rasa keingintahuan begitu dalam terhadap sesuatu sehingga timbul perilaku-perilaku unik sekaligus aneh pada diri kaum remaja— menjadi tema menarik yang bisa diangkat ke layar kaca. Tentu saja, konsumen primer tayangan sinetron jenis tersebut tidak lain kaum remaja itu sendiri.
Berbekal bintang-bintang akting rupawan membawa dampak rasa ingin "meniru" dalam setiap benak remaja yang menonton. Sebab, mereka cenderung mengidolakan setiap bintang film rupawan dan menganggap bahwa apa yang dilakukan atau dikenakan sang idola merupakan suatu bentuk perwujudan jati diri mereka yang paling sempurna.
Seperti kita tahu, sinetron remaja yang banyak mengadopsi realitas sosial remaja ibu kota menginspirasi remaja-remaja di daerah untuk tampil seperti "yang ada di televisi".
Persoalan percintaan sering mengarah pada seks bebas, keputusasaan karena ditinggal pacar, transaksi cinta, melawan orang tua yang katanya "demi cinta", aborsi. Kemudian, persoalan pergaulan tidak luput dari narkoba, dugem, bergaya hidup mewah, serta persoalan fashion yang identik dengan tren pakaian-pakaian mini, ketat, aksesori-aksesori nan mahal, ponsel canggih, make up berlebihan. Semua itu merupakan gambaran sinetron remaja kita sekaligus refleksi kondisi sosial remaja kita saat ini.
Lihat saja bagaimana adik saya yang masih SMP meminta ponsel berkamera dengan paksa kepada orang tua karena dia memandang sudah saatnya anak seusianya ke mana-mana menenteng barang canggih tersebut.
Ketika ditanya ingin ponsel seperti apa, dia menunjuk sebuah adegan sinetron remaja yang kala itu aktrisnya tengah membawa ponsel di sekolah. Luar biasa sekali pantulan tingkah laku dan penampilan sang aktris dalam sinetron kepada anak SMP di daerah seperti adik saya tersebut.
Namun, kita tidak bisa serta merta menyalahkan pihak-pihak pembuat dan penayang sinetron remaja. Sebab, menurut Kracauer dan Purdy (1996), masyarakat sendirilah yang menghendaki sebuah film itu beredar.
Dengan kata lain, apabila saat ini banyak bermunculan sinetron remaja dan dinamikanya, berarti mentalitas remaja-remaja kita memang menghendaki yang demikian.
Tetapi, kita juga tidak lantas menyalahkan "kondisi sosial" remaja saat ini. Kondisi sosial mereka sekarang bisa jadi merupakan bentuk dari tingkat pengetahuan dan cara berpikir mereka yang semakin kritis. Sebab, teknologi semakin canggih sehingga budaya-budaya luar negeri begitu mudah memasuki dunia remaja kita.
Jadi, tidak salah juga jika remaja punya kondisi sosial yang mengkhawatirkan. Sebab, mereka merupakan sosok yang memang secara alamiah tengah mencari jati diri.
Lantas, siapa yang harus kita persalahkan ? Jawabannya tidak ada. Bukan saatnya kita memikirkan dan menuduh siapa yang salah karena setiap pihak pasti punya rasionalitas masing-masing.
Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi keadaan itu dengan bijak. Sinetron remaja tetap merupakan karya seni yang harus kita hargai sehingga tidak perlu rasanya jika sinetron remaja dihujat atau bahkan dihapus saja dari layar kaca.
Namun ada baiknya kalau konsep sinetron remaja dibuat "santun" agar dampak negative imitation-nya tidak terlalu berlebihan. Remaja sendiri tidak bisa dituntut untuk berubah seperti yang orang tua inginkan. Dunia remaja adalah dunia remaja, suka tidak suka memang harus dilalui. Tinggal bagaimana orang tua, guru, atau kita yang lebih tua bisa memberikan pendampingan, baik secara psikologis maupun sosiologis, agar remaja tidak salah arah dalam memaknai dunia mereka.
Cukup meluangkan waktu untuk sekadar mendampingi mereka ketika menonton televisi serta menjadi "teman" diskusi yang baik bagi mereka. Sederhana bukan?
Fifin Chahyani R.N., cerpenis alumnus Universitas Jember
re : dimuat di jawa pos 23 jan 2006
Rabu, 12 Maret 2008
Kemiskinan oh kemiskinan
Kalau kita membicarakan masalah kemiskinan rasanya kita tengah berada di dalam sebuah lingkaran setan yang akan terus berputar tanpa batas. Ya, masalah kemiskinan adalah akumulasi dari segala persoalan di semua sisi kehidupan. Politik, sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dll.
Persoalan itu muncul ketika ketimpangan di setiap bidang telah mencapai titik kritis, sehingga "percuma" jika saja dilakukan berbagai macam cara untuk mengatasinya. yang ada kita tinggal menunggu kapan "kematian" itu akan menjemput.
Itulah dogma yg selama ini menjadi trade mark bangsa kita. Dogma yg sejatinya "keliru". yaitu lebih memilih mengobati daripada mencegah.
Seperti kita tahu bahwa beberapa bulan ini kita dikejutkan dengan begitu banyaknya fenomena gizi buruk yang rata-rata dialami oleh kaum miskin. Disisi lain, kasus bunuh diri akibat masalah ekonomi sulit juga meningkat. miris mendengarnya.
Memperbaiki ketimpangan-ketimpangan yang telah "mengakar kuat" seperti melakukan hal yang sia-sia. Sebab tentu saja itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sementara seringkali di tengah proses perbaikan itu terjadi lagi ketimpangan-ketimpangan yang lain. Itulah lingkaran setan yang tidak akan pernah ada putusnya.
Kemiskinan merupakan akumulasi dari semua itu. Bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah semata, tapi juga kita yang berjiwa "cinta sesama". Memberi bantuan memang gerakan jangka pendek, tapi itu lebih berarti dibanding kita mengharap gerakan jangka panjang yang tidak kunjung ada realisasinya. Ibaratnya, lebih baik sedikit tapi tepat sasaran, daripada banyak tapi salah sasaran.
Kemiskinan sering dianalogikan bahwa miskin harta atau miskin dari segi perekonomian. Padahal kemiskinan di negara kita justru lebih banyak miskin moral. Miskin budi pekerti, miskin hati nurani, ataupun miskin rohani. Dan miskin yang ini justru memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi.
Jika seorang individu telah miskin moral, maka dengan apa kita melakukan gerakan ? Bantuan uang ? barang ? yang jelas, hanya individu itu sendiri yang bisa meng"kaya"kan moralnya sendiri.
Pemerintah selama ini terlihat lebih mengutamakan kebijakan ekonomi daripada kebijakan sosial. Padahal itu tak berlaku lagi di era saat ini. Persoalan sosial adalah persoalan pelik yang tidak kalah pentingnya dengan masalah ekonomi. Ini harus menjadi perhatian yang serius tentunya.
Oleh karena itu, keberadaan pekerja-pekerja sosial (social worker) di negara kita harus diakui dan disejajarkan dengan profesi-profesi yang lain. Sudah saatnya pemerintah memberdayakan social worker kita untuk ikut terjun mengatasi masalah sosial (kemiskinan) yang ada.
Logikanya, kalau ekonomi membutuhkan ekonom, dan kalau sosial tentu saja membutuhkan tenaga sosial.
Gerakan anti kemiskinan hendaknya memang segera dijalankan. Dimana didalamnya terdapat orang-orang dengan berbagai macam disiplin ilmu. Mengingat kemiskinan adalah masalah kompleks dan harus disikapi secara kompleks pula.
Namun, dibalik semua usaha itu, tetapkanlah dulu bahwa keimanan kepada Tuhan YME adalah tonggak dari keberhasilan semua usaha tersebut.
Persoalan itu muncul ketika ketimpangan di setiap bidang telah mencapai titik kritis, sehingga "percuma" jika saja dilakukan berbagai macam cara untuk mengatasinya. yang ada kita tinggal menunggu kapan "kematian" itu akan menjemput.
Itulah dogma yg selama ini menjadi trade mark bangsa kita. Dogma yg sejatinya "keliru". yaitu lebih memilih mengobati daripada mencegah.
Seperti kita tahu bahwa beberapa bulan ini kita dikejutkan dengan begitu banyaknya fenomena gizi buruk yang rata-rata dialami oleh kaum miskin. Disisi lain, kasus bunuh diri akibat masalah ekonomi sulit juga meningkat. miris mendengarnya.
Memperbaiki ketimpangan-ketimpangan yang telah "mengakar kuat" seperti melakukan hal yang sia-sia. Sebab tentu saja itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sementara seringkali di tengah proses perbaikan itu terjadi lagi ketimpangan-ketimpangan yang lain. Itulah lingkaran setan yang tidak akan pernah ada putusnya.
Kemiskinan merupakan akumulasi dari semua itu. Bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah semata, tapi juga kita yang berjiwa "cinta sesama". Memberi bantuan memang gerakan jangka pendek, tapi itu lebih berarti dibanding kita mengharap gerakan jangka panjang yang tidak kunjung ada realisasinya. Ibaratnya, lebih baik sedikit tapi tepat sasaran, daripada banyak tapi salah sasaran.
Kemiskinan sering dianalogikan bahwa miskin harta atau miskin dari segi perekonomian. Padahal kemiskinan di negara kita justru lebih banyak miskin moral. Miskin budi pekerti, miskin hati nurani, ataupun miskin rohani. Dan miskin yang ini justru memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi.
Jika seorang individu telah miskin moral, maka dengan apa kita melakukan gerakan ? Bantuan uang ? barang ? yang jelas, hanya individu itu sendiri yang bisa meng"kaya"kan moralnya sendiri.
Pemerintah selama ini terlihat lebih mengutamakan kebijakan ekonomi daripada kebijakan sosial. Padahal itu tak berlaku lagi di era saat ini. Persoalan sosial adalah persoalan pelik yang tidak kalah pentingnya dengan masalah ekonomi. Ini harus menjadi perhatian yang serius tentunya.
Oleh karena itu, keberadaan pekerja-pekerja sosial (social worker) di negara kita harus diakui dan disejajarkan dengan profesi-profesi yang lain. Sudah saatnya pemerintah memberdayakan social worker kita untuk ikut terjun mengatasi masalah sosial (kemiskinan) yang ada.
Logikanya, kalau ekonomi membutuhkan ekonom, dan kalau sosial tentu saja membutuhkan tenaga sosial.
Gerakan anti kemiskinan hendaknya memang segera dijalankan. Dimana didalamnya terdapat orang-orang dengan berbagai macam disiplin ilmu. Mengingat kemiskinan adalah masalah kompleks dan harus disikapi secara kompleks pula.
Namun, dibalik semua usaha itu, tetapkanlah dulu bahwa keimanan kepada Tuhan YME adalah tonggak dari keberhasilan semua usaha tersebut.
Langganan:
Komentar (Atom)