Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2008

Bercinta dengan Bidadari

Laki-laki itu telanjang, terpekur di sudut ranjangnya. Badannya menggigil dan wajahnya pasi seperti mayat. Sesekali ia memohon ampun dengan suara lirih hampir tak terdengar. Di pelupuk matanya sebentar lagi akan menetes darah, karena air matanya telah lekang bersama rasa takut yang luar biasa. Cairan sperma yang sudah berulangkali ia keluarkan bahkan mengering dengan sendirinya dan membekas di sela-sela selangkangannya yang sedikit tersayat. Bercampur darah…

Cahayanya menyilaukan mata. Senyum liar itu sanggup mematahkan malam tadi. Bidadari bersayap turun ke bumi hanya untuk bercinta dengan laki-laki yang sendiri. Laki-laki yang selama ini hanya bercinta dalam imajinasi. Tak punya kekasih, atau hanya memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan. Laki-laki yang belum pernah berpetualang menelusuri nikmatnya seorang perempuan.

***

Dan, laki-laki itu adalah Waskito. Separuh abad lebih hidupnya hanya diisi dengan kekosongan. Selebihnya tak kurang dari sekadar mimpi-mimpi indah yang sengaja ia rangkai cuma untuk memenuhi hasrat kelaki-lakiannya. Ia bayangkan sosok perempuan dengan tubuh sintal, telanjang, tersenyum penuh gairah, bergoyang, menari-nari diatas perutnya yang sedikit tambun dan perlahan mendekatinya, lalu membisikkan sesuatu ditelinganya. Sesaat kemudian, Waskito sudah orgasme. Dan untuk yang terakhir ini bukan mimpi. Waskito betul-betul orgasme !

Begitulah hari demi hari dilaluinya dengan penuh imajinasi. Ia begitu memuja perempuan dalam imajinasinya itu. Dikatakannya pada teman-teman kerjanya bahwa perempuan yang ia namai Sheila itu adalah sosok yang tangguh di ranjang, tak kenal lelah jika ia meminta kapanpun, selalu bergairah, dan senantiasa bisa membuatnya orgasme berkali-kali hanya dalam waktu satu malam.

“Seksi mana sama bu Yul ?” Tanya Gunadi penasaran
Waskito melirik bu Yul yang sedang serius mengetik laporan keuangan di mejanya yang berada di sudut ruangan kantor
“Halaaah…ndak ada apa-apanya dibanding Sheila…” jawab Waskito mencibir
“Waaahh..pasti mbak Sheila itu cantik banget orangnya. Kenalin sama kita-kita Was..” pinta Harjito
“Sori ya..bukannya aku ndak mau kenalin sama sampeyan-sampeyan ini. Tapi aku takut bini-bini kalian yang galak-galak itu bakal cemburu soalnya suami-suaminya pada mupeng semua sama Sheila..hehehe..” Waskito terkekeh
“Semprul kowe Was ! maunya diembat sendiri !” maki Gunadi cemberut
“Kok ndak dikawinin aja toh Was ? Eman lo, secara umurmu dah kepala lima lebih, dapet daun muda yang masih kinyis-kinyis, ntar keburu disamber orang baru melongo..” tutur Harjito dengan mimic serius
“Kawin ya udah tho..cuma nikahnya belum hahaha…lagian Sheila tenang-tenang aja ndak minta dinikahin kok, santei aja bro..” jawab Waskito enteng
“Yakin banget dia ndak bakalan berpaling Was ?” Tanya Gunadi
“Yakin 100 %..la wong dianya selalu puas mainnya sama aku. biar gini-gini aku masih bisa diandalkan men…” jawab Waskito percaya diri
“Ya wes, ndak usah ngomong thok…mana ? tunjukin donk orangnya…” Lagi-lagi Harjito meminta
“Iya nanti…” jawab Waskito mantab

Sementara bualan demi bualan terus dibuat Waskito sama teman-temannya. Bahkan begitu kerapnya ia bercinta dengan perempuan imajinasinya itu, lambat laun menyurutkan keinginannya untuk menikah dan bercinta dengan manusia di dunia yang nyata. Aku sudah puas dengan Sheila-ku kok. Pikirnya setiap ditanya sanak keuarganya tentang sebuah pernikahan. Dibenaknya, dengan Sheila aku tak perlu menghidupi seseorang, aku juga tak perlu takut diatur sana-sini seperti Gunadi dan Harjito yang selalu tak punya kesempatan keluar malam karena tak diijinkan istrinya. Apalagi, Sheila selalu ada saat aku inginkan. Dia selalu bersedia memuaskanku. Ah !

Hingga malam itu pun datang menghampirinya. Tiba-tiba saja kemaluannya terbangun. Naluri bercintanya pun menggelora hingga menguasai setiap jengkal aliran darahnya. Sejenak ia memejamkan mata. Mengatur nafas yang mulai turun-naik tak tentu. Bibirnya memanggil Sheila seraya merintih dalam desah nafsu yang teramat sangat.

Dan Sheila datang. Cahaya putih berkilau itu menembus dinding kamar Waskito. Angin yang mengiringinya menyibakkan setiap helai tirai biru muda jendela kamar. Aroma itu sedikit anyir dan sangat khas. Waskito hapal betul aroma itu. Apalagi saat ia mulai menjelajah mulut menganga Sheila. Menetes-netes dan membasahi mulutnya. Aroma yang bisa membuatnya semakin bergairah. Sheila selalu mengerang kala hal itu ia lakukan. Sejurus kemudian, Sheila tak kalah bergairahnya dengan dirinya.

Perlahan waskito membuka matanya. Ia terbelalak saat bidadari bersayap itu datang mendekatinya. Setelah terbang kian kemari, hingga akhirnya berhenti dipangkuannya. Waskito mencubit pipinya sendiri. “Aowww..!” teriaknya kesakitan. Dadanya berdegup kencang. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia berharap ini hanya imajinasinya saja. Tapi, cahaya itu menyilaukan matanya. Dan ia merasakan sentuhan lembut bidadari itu.

“Ayo Waskito…cium aku…karena ciumanmu akan menghilangkan sayapku..” suara itu begitu lembut dan terdengar nyata di telinga Waskito yang masih ketakutan
“Sssiii a..ppaaa kaammu ?” Tanya Waskito gelagapan
Bidadari itu tersenyum, “Aku Sheila..perempuan yang selama ini kau impikan Waskito..”
“Jangan takut Waskito..aku disini karena ingin bercinta denganmu..cepat cium aku Waskito..” pintanya sekali lagi
Dengan wajah pucat, Waskito mendekatkan bibirnya di bibir bidadari itu. Hingga akhirnya ciuman itu melenyapkan sepasang sayap dengan tiba-tiba. Dan, bidadari itu tak seperti perempuan dalam dongeng lagi, tapi persis seperti Sheila yang selama ini ia simpan dalam ruang imajinasinya.

Bidadari bersayap yang telah menjelma menjadi sesosok perempuan cantik nan sempurna itu merebahkan diri di ranjang Waskito dengan tubuh telanjang tanpa sehelai kainpun menutup setiap jengkal tubuhnya. Darah Waskito makin memanas. Ia tak kuasa menahan nalurinya untuk segera mereguk kenikmatan dengan perempuan ini. Mulut itu menganga, air liurnya menetes-netes, tubuhnya naik-turun mengikuti irama hati, desahan demi desahan terdengar angkuh di malam yang sepi ini. Selain itu semuanya tuli, semuanya buta. Malam ini Waskito berpesta dengan sprema. Justru ia yang terus dibuat mengerang tanpa henti. Berkali-kali. Terus-menerus.

Sampai bulan sedikit meredup, enggan melihat kenikmatan yang teronggok selaksa dendam yang panjang. Waskito terengah-engah. Nafasnya tersengal-sengal. Ia mengaduh, mengampun. Kenikmatan yang tadi berubah menjadi birahi yang tak terkendali. Perempuan bidadari itu murka dengan penolakan Waskito untuk terus bercinta. Parasnya yang lembut berubah menjadi memerah. Seolah-olah ia ingin menerkam Waskito dengan kuku-kukunya yang tajam. Ia mencabik selangkangan Waskito hingga berdarah-darah.

Waskito menyerah. Tubuhnya yang masih telanjang dibiarkan kaku di sudut ranjang. Ia pingsan.

“Edian kamu Was..!” pekik Gunadi begitu Waskito tersadar dari pingsannya
Waskito mengerang kesakitan. Dilihatnya dua temannya itu sudah berdiri di dekatnya. Berusaha menolongnya.
“Jadi ini yang kamu bilang bercinta dengan Sheila ?!” Tanya Harjito tak percaya sambil menunjuk pada ruangan kamar yang acak-acakan dan bercecer noda darah, sperma, dan lendir. Kaca-kaca jendela pecah, pigura foto didinding jatuh dan pecah. Bahkan salah satu kaki ranjang Waskito pun tampak patah.

Waskito berkeliling memandangi kamarnya. Pikirannya benar-benar kacau. Untuk mengingat apa yang sudah terjadi semalam, ia tak mampu lagi. Pikirannya kosong. Entah kemana. Waskito gila !!!
*** Aek Nabara, 21 Okt 2008

Selasa, 14 Oktober 2008

Anak Papi

Tara hampir saja melempar sepatu ketsnya ke arah muka Vito, kalau saja Brenda nggak mencegahnya. Entah kenapa, dua makhluk ini selalu saja ribut. Vito, cowok sebelah rumah Tara hobi banget gangguin cewek tomboy ini. Ada aja ledekan yang ditujukan pada Tara. Sedangkan Tara gampang banget meledak emosinya. Bak jagoan, Vito kerap dibuatnya tunggang langgang ketakutan. Asal muasalnya sih (katanya) Tara sebel banget ma Vito yang suka ngomongin dia dibelakang. Tara tomboy lah, Tara bukan cewek idaman lah, Tara jagoan neon lah, Tara galak lah, Tara cocoknya pake kumis lah, Tara culun kalo pake rok lah, n bla bla bla. Dan semuanya sampe di telinga Tara dengan komplit via mulut Giska yang dijamin tokcer nge-gosipnya. Alhasil, gak dirumah, gak disekolah, gak dijalan, setiap ketemu Vito, Tara selalu pasang tampang jutek, cuek, n mengibarkan genderang perang. Vito pun tak mau kalah, jurus-jurus nan usil tak henti-henti dikobarkan. Persis kayak Tom n Jerry.

“Udah Ra, cuekin aja napa sih ?” Brenda yg dah bertahun-tahun sobatan ma Tara gak betah liat tingkah mereka

“Cuekin gimana Bren ?! Tu anak kurang ajar banget ! Lu denger sendiri kan, dia ngatain gue cewek perkasa ? kurang ajar kan ???!” elak Tara geram

Brenda memonyongkan bibirnya, “Ya udah, biarin aja. Makin lu marah makin hepi diana.”

Tara diam dan mendongkol. Dikepalkan tinjunya dan diarahkan pada Vito yang cekakakan di seberang jalan.
***
Di rumah, Tara hanya tinggal berdua dengan papi. Bik Inah yang biasanya melayani dirinya dan papi tak lagi bekerja karena anaknya sakit dan harus pulang kampung. Untung aja papi adalah papi yang perhatian banget ma anak atu-atunya nie. Meski sibuk dengan urusan kantor, tapi papi selalu pulang tepat waktu dan always ngabisin waktu dengan Tara. Mulai dari maen ps, berenang, nyabutin rumput di pekarangan, maen tennis, jogging, nonton dvd, jalan-jalan ke mal ngusilin cewek-cewek cantik, mbenerin genteng yg bocor, ngecat rumah, sampe nonton n main bola bareng di lapangan dekat komplek rumah. Asal ngak mandi bareng aja hihihi…

Memang, sejak mami meninggal karena kanker, papi menjadi ekstra perhatian sama Tara. Hampir apapun yang menjadi permintaan Tara selalu dipenuhi. Sayangnya, perhatian seorang papi jauh berbeda dengan perhatian seorang mami pada anak perempuannya. Papi Tara tak pernah tau kebutuhan seorang remaja putri seperti Tara. Yang papa Tara tau, moge lagi nge-tren, maka dibelikannyalah Tara sebuah moge. PS bola lagi in, maka dibelikannyalah Tara PS bola. Waktu ada final sepakbola Persija melawan Persebaya, papa Tara beli dua tiket, satu untuknya, satu lagi udah pasti untuk Tara. Bahkan saking sayangnya sama Tara, papa selalu melibatkan Tara dalam setiap aktifitasnya. Bisa ditebak kan, aktifitas papi jelaslah aktifitas laki-laki.

Bahkan untuk urusan pakaian, hampir seluruh kostum seorang Tara adalah jeans belel dan kaos oblong. Just it ! Gimana nggak ? Setiap akan pergi (terutama ma papi) dengan dandan cantik pake rok, papa selalu ngomentarin, “Duh Ra, pake celana aja deh, pan kita mo nonton konser underground.” atau “Duh Ra, pake sandal jepit aja deh, cuman mo liat bola di lapangan juga, ngapain sih pake sepatu kaca gitu.” Atau “mending pake kaos gambar F1 yang papi beliin minggu lalu, biar matching, kita kan mo nonton F1 di kafe Bintang.” atau “gitu aja deh, nggak usah pake dandan segala, kelamaan ! ntar papi keburu nggak mood nih jalan-jalan ke mal.” Yaaaahhhh…pantes aja Tara tomboy bangets. Papinya sih yang suka ngomporin Tara buat tampil kayak cowok.
***
Makin hari makin gencar serangan dari Vito. Bahkan kali ini Tara merasa harga dirinya sudah jatuh luruh. Tara mundur teratur. Mungkin Vito memang ada benarnya. Tara tomboy itu benar, Tara bukan cewek idaman itu juga benar…ah !!!

“Pi…” Tara bergelayut manja dipangkuan papinya yang lagi asyik nonton bola di tv.

“Kenapa Tara ?” Tanya papi lembut

“Emang bener ya, Tara ini kayak anak cowok ?”

Papi tersenyum, tak menjawab

“Serius pi…mmm..sebenernya Tara tuh cantik apa ganteng sih pi ?”

“Huss ! Ngomong apa sih Ra ! ya udah jelas Tara tuh perempuan, pasti cantik lah…malah mirip Luna Maya loh..” jawab papi geli

“Ah ! papi mah ngak ada serius-seriusnya. Becanda mulu. Nggodain Tara mulu. Kayak tetangga sebelah noh yg usiiiiil banget !” cerocos Tara tanpa sadar

Papi mengernyitkan dahi, “Vito maksud Tara ?”

Tara gelagepan, “Eh..ng..ng..nggak kok pi..nggak..nggak..bukan Vito”

“Siapa lagi kalo bukan Vito, rumah sebelah kita kan cuma rumah Vito…hayyyooo…”

Tara terpojok dan menutup wajahnya yang memerah

“Sebenernya papi juga udah dengar kalo Vito suka usil ma Tara. Brenda yang cerita. Pas Tara masih mandi, Brenda certain deh semuanya sama papi..”

“Jadi pi ???”

“Sebenernya papi melakukan semuanya untuk Tara. Apapun itu asal Tara bahagia papi akan ikutin. Tapi papi sadar, papi bukan mami yang tau betul segala kebutuhan seorang gadis seperti Tara. Sekarang gini deh..papi serahin semuanya sama Tara. Tara kan yang lebih tau gimana-gimananya seorang cewek. Papi tinggal acc aja…gimana sayang ?” tutur papi sembari membelai rambut Tara.

Tara tersenyum dan memeluk papinya, “Terima kasih ya pi..”

“Ya udah, mulai sekarang jangan sedih lagi ya..n gak usah pake dendam segala ma Vito. Papi yakin sebenernya Vito tuh pengen berteman sama Tara. Cuman ngak tau caranya aja..ok “
***
Tarrraaaa….seisi sekolah terkejut bukan kepalang. Pun Vito dan Brenda, ternganga-nganga saat melihat new look dari seorang Tara Nadya Puspita. Rambutnya yang biasanya dikuncir n ditekuk-tekuk ala mbok nah, pagi ini dibiarkan terurai melambai-lambai mengikuti gerak tubuhnya yang langsing. Bando pink menghiasi mahkotanya. Turun lagi, wajahnya disapu oleh bedak tipis, bibirnya seksi diolesi lipgloss pink natural, bulu matanya udah dijepit jadi lentik. Turun lagi, kalung emas putih bertuliskan Tara memperindah lehernya yang jenjang. Dan, sepasang anting mungil bergelantungan di ujung telinganya. Turun lagi, baju seragam yang biasanya dibiarkan keluar tak beraturan, kini terselip rapi dan pake sabuk pink segala. Dan, di pergelangan tangannya tampak dua buah gelang berwarna pink. Kulitnya yang putih semakin mulus saja. Dan…olala..kaos kaki dan sepatunya juga warna pink bo…!

“Taraaa…ini dirimu kah ???” teriak Brenda lebay

Tara mempersembahkan senyum termanisnya pada siapa saja hari ini. Karena hari ini ia ingin menjadi seorang cewek yang sempurna. Cewek yang juga bisa jadi idaman para cowok. Bukan lagi cewek perkasa seperti kata Vito.

“Hai Vito…” sapa Tara dengan nada memanja

Vito tak bergeming. Heran abiezzz!!!
***
Sejak Tara berubah jadi girly abis, memang tak ada lagi kata-kata usil dari mulut Vito. Bahkan Tara merasa Vito bukan hanya tak usil lagi tapi justru seperti menjauhi dirinya. Setiap kali berpapasan, Vito berubah menjadi sangat cuek. Bahkan untuk menatap Tara, ia tak pernah lagi.

Tara merasakan hal itu. Entah kenapa, ia merasa seperti kesepian. Hari-harinya monoton dan membosankan. Hari-hari dilaluinya hanya untuk memikirkan gaya apa lagi yang akan ditampilkannya esok hari. Bahkan tabungannya pun semakin menipis hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhannya sebagai seorang girl yang gaul.

Tara merindukan kata-kata usilnya Vito. Tara kangen ribut-ribut yang selalu terjadi dimanapun dengan Vito. Tara juga rindu nonton n maen bola sama papi. Ah…Tara mau jadi diri Tara yang dulu aja deh…gak enak banget dicuekin Vito. Kasian juga ngeliat papi nonton bola sendiri…
***
Perlahan, Tara memberanikan diri mendekati Vito yang sedang duduk di gazebo sekolah. Sambil tersenyum ia mencoba menyapa Vito,

“Lagi ngapain Vit ?” Tanya Tara

“Nggak ada sih, cuma lagi duduk doang, istirahat.” Jawab Vito cuek

“Vito..gue boleh nanya gak ?”

“Nanya apaan ?”

“Kenapa sih Vito kok nge-jauhin Tara ?”

“Nge-jauh ?”

“Iya. Vito nggak pernah nyapa atau tersenyum sama Tara…cuek banget. Kenapa sih Vit ? Nggak enak banget tau sih dicuekin kayak gitu.”

“Lu mo tau alasannya ?”

Tara mengangguk

“Gue eneg tau sih liat gaya lu saben hari disekolah. Norak tau !”

“Masa sih Vit ? Gue kan cuman berusaha jadi cewek girly, nggak tomboy, nggak perkasa seperti yg lu bilang selama ini ke gue…” Tara mulai terisak

“Iya, tapi nggak lebay kayak gitu kale. Udah deh..jadi diri lu sendiri napa sih ?!”

“Ntar kalo balik lagi kayak dulu, lu bakal ngeledekin gue lagi kan ?”

Vito memandang Tara dalam-dalam.

“Lu tau nggak Ra ? jujur gue ngelakuin itu karena gue pengen cari perhatian lu. Karena selama ini gue nggak pernah punya kesempatan ngobrol ma lu. Yang ada lu malah jutek mulu. Gue tau, Giska kan yang bikin gosip itu ? Heh, Giska lu percaya !”

“Kalo Giska nggak bener, kenapa lu kok terang-terangan ngeledekin gue ?”

“Ya abissss…sekalian aja gue bikin lu marah.”

“Lu jahat banget sih Vit…”

“Sekarang gue udah kehilangan lu Ra..Tara yang selama ini gue kagumin dah berubah. Jadi norak, lebay…eneg gue!”

Tara tersenyum, “Halah..bilang aja lu kangen kan ma gue ??? kangen kan ribut-ribut ma gue ? hayyyooo…ngaku aja deh Vit..”

Vito tersenyum, “Emang lu nggak kangen Ra ?”

Tara mengangguk cepat, “Kangeeeennn banget Vit…”

“Iya deh, gue bakal berubah jadi diri gue sendiri lagi. Tapi janji lu jangan ngeledekin gue lagi ya Vit…janji ya ???” pinta Tara

“I promise…” jawab Vito romantis

“Kalo gitu ntar sore kita gabung ma papi Tara yuk…??”

“Kemana Ra ?”

“Nonton bola dunk…hehehe…” jawab Tara seraya berlari kecil beranjak meninggalkan Vito, menuju kelas.

“Oke, siiippp !!!” teriak Vito semangat
***

Minggu, 31 Agustus 2008

Saat Hujan Itu Reda…

Langit mendung masih menggelayuti Aek Nabara. Tak lama lagi hujan akan turun. Gemuruh sahut menyahut, memekakkan telinga. Aku masih berdiam di kedai ini. Menikmati secangkir kopi sidikalang panas yang sangat nikmat. Sambil menyelesaikan cerita pendek yang kubuat sejak dua hari yang lalu, rasanya aku tak sanggup bangkit dari bangku kayu ini. Terlalu sayang untuk dilewatkan suasana seperti ini. Ada kopi sidikalang panas, ada laptop, ada tulisan, ada ide yang melayang-layang di otak dan ingin segera dituangkan dalam rangkaian huruf menjadi kata, menjadi kalimat, menjadi paragraf, menjadi sebuah cerita…

Kedai wak Sani ini seperti rumah keduaku. Tempatku mencari inspirasi. Tempatku berbagi kisah setelah seharian penat dengan pekerjaan di kantor. Bahkan tak jarang aku numpang tidur sejenak melepas lelah di bale bambu yang tergelar di belakang

kedai. Semilir angin selalu berhasil menghanyutkan aku ke dalam mimpi-mimpi indah di siang bolong hingga tanpa kusadari matahari telah berlalu dan langit mulai menghambur, sebentar lagi gelap.

Kedai wak Sani ini berdempetan dengan rumah induknya. Tinggal juga di rumah papan ini wak Wadi, suaminya, Lilik anak pertamanya, Eko suami Lilik, Ratna anak ketiganya, Yusuf anak keempatnya, dan Wini serta Lila, cucunya yang juga anak Lilik. Sementara Danang, anak keduanya telah berumah tangga dan tinggal di Aek raso, sekitar seratus kilometer dari aek Nabara ini. Ini yang menjadi salah satu penyebab aku betah berlama-lama di sini. Ramai. Riuh. Gaduh. Selalu itu yang mewarnai kedai dan rumah wak Sani. Wini dan Lila yang kerap mencari perhatian dengan sedikit membuat onar di kedai yang selalu ramai pembeli ini, dan juga Lilik yang tak kalah heboh dengan teriakan-teriakannya melihat keonaran anak-anaknya. Wak sani dengan gaya cueknya tak pernah peduli dengan cucu-cucunya itu. Sibuk melayani pembeli. Sedangkan wak Wadi tak henti-hentinya melawak. Sentilan-sentilan lucu senantiasa membuatku tertawa dan melupakan sesaat rasa jenuh yang mendera.

Suasana inilah yang tak kudapatkan setibanya aku di rumah. Rumah besar nan mewah itu hanya memberiku kebisuan dan sepi. Sendiri. Tanpa kawan. Mungkin, satu-satunya tempatku mencurahkan isi hatiku saat dirumah hanya telepon, menghubungi dan berlama-lama ria mengobrol dengan teman-teman, komputer, bersua dengan sahabat-sahabat dunia mayaku, dan yang terakhir adalah bantal, menikmati mimpi yang kadangkala sengaja kupintal hanya sekadar untuk bisa bertemu dengan ibu di surga atau Sandy, kekasih hati yang telah lama tak ada kabarnya sejak ia memutuskan untuk sekolah ke negeri paman sam, tiga tahun yang lalu.
Sedih memang. Di tengah karirku yang melesat bak meteor. Bahkan terakhir, aku dipercaya untuk memegang jabatan penting di perusahaan. Hidupku masih saja sunyi dan tanpa warna. Semua kesuksesan ini kunikmati seorang diri tanpa bisa aku berbagi dengan orang-orang yang semestinya aku kasihi. Hampa dan sepertinya tak ada arti.

“Ngelamun aja, Jov..” wak Sani membuyarkan lamunanku

Aku tersenyum, “Lagi cari inspirasi wak.” Jawabku alasan

“Nulis apa ?” Tanya wak Sani sambil menggerus cabe

“Cerita wak.” Jawabku sembari menyeruput kopi yang mulai menghangat

“Kereta ngga dimasukin ke teras ? udah mulai gerimis tuh..” suruh wak Sani

Aku melongok ke luar kedai. Ya, gerimis siang ini akhirnya turun juga. Kereta yang kuparkir tepat di depan pintu kedai sedikit basah tersiram air yang turun dari langit mengabu. Aku pun bergegas menaikkan kereta perusahaan ke teras rumah wak Sani. Aman.

“Sudah wak.” Ucapku begitu tiba di dalam kedai

“Nggak makan Jov ?”

“Nggak lapar wak.”

“Ini ada tauco udang. Biasanya kau kan suka.” Wak Sani menunjukkan semangkuk tauco udang kesukaanku.

Aku tak menanggapi. Tak ada selera makanku. Memang, beberapa hari ini lidahku pun ikut-ikutan protes. Terasa kelu dan hilang hasrat makanku. Mungkin, lidah ini juga haus dengan kasih ( ??? )

“Wini sama Lila mana wak ?” tanyaku mengalihkan pembicaraan

“Tadi ke ranto cari sepeda sama mamaknya. Abis si Wini ngerengek terus minta sepeda kayak kakanya Lila. Susah tuh anak. Nggak diturutin bisa hancur semua dagangan kedai ini.”

Aku tertawa kecil, “Namanya anak kecil wak..”

“Nanti kalo kamu ngalamin, punya anak, wah pasti tau rasanya Jov..repot banget..” ucap wak Sani sambil menggodaku

Hatiku menciyut. Boro-boro punya anak. Cari suami aja susahnya minta ampun. Putus asa rasanya kalo teringat part of life yang satu ini.

“Eh, gimana tuh sama bang Yusak ? Ada kelanjutannya nggak ?” wak Sani mulai nge-gosip. Bahkan sampai ditinggalkannya acara memetik sayur kangkung dan memilih nimbrung di dekatku.

“Hhh…mulai deeeh..” potongku cepat

“Loh, wak kan cuma pengen tau Jov..” Wak Sani protes

“Ya nggak gimana-gimana wak..biasa aja kok.” Terangku akhirnya

“Biasa aja gimana ? dia sempet main ke rumah kau Jov ?” Tanya wak Sani antusias. Maklum, bang Yusak, yang ia jodohkan padaku tak lain adalah keponakannya.

“Ya biasa aja wak. Pernah dua kali ke rumah. Tapi aku masih belum niat apa-apa sama dia. Bang Yusak pun kayaknya terlalu pendiam.”

Wak Sani mencibir, “Ah, jangan terlalu memilih lah Jov..mana bisa cepet dapat jodoh kalo semuanya gak ada yang cocok. Namanya orang kan pasti gak ada yang sempurna..”

Aku mengernyitkan dahi, “Iya sih..tapi aku juga perlu milih kan wak..buat aku pernikahan tuh cuma sekali seumur hidup. Makanya aku gak mau gegabah memilih suami. Bahaya. Urusannya dunia akhirat !” sangkalku sok tahu

Wak Sani ngedumel, dan beranjak melayani pembeli. Aku tahu dia kecewa karena tak berhasil menjodohkanku dengan keponakannya. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Perempuan itu masih berdiri di halte. Hujan yang tak kunjung reda, membuatnya harus segera tentukan pilihan. Nekat menerobos guyuran air hujan yang deras atau tetap bertahan berdiri di sudut halte dengan badan yang semakin menggigil hingga hujan reda. Toh, tak ada yang membuatnya menunggu. Tak ada yang memintanya untuk bertahan disini.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Tak tahu harus kuakhiri dengan keputusan apa bait ceritaku ini. Perempuan itu terlalu naif. Hujan saja seolah membutuhkan keputusan penting dalam hidupnya. Sosok yang sedikit konyol dan mengada-ada. Meski begitu, nyatanya aku kebingungan juga menentukan keputusan itu. Padahal aku yang memiliki hidup perempuan itu. Toh, aku lebih naif dari tokoh cerita yang kubuat ini. Takut, jika nekat menerobos hujan, tiba-tiba datang pangeran hati yang memberi kehangatan di tengah dinginnya hujan. Merapat di sudut halte. Menawarkan persahabatan. Menghabiskan waktu hingga hujan mereda. Dan berlanjut, blab la bla…atau jika bertahan, tiba-tiba tubuhnya bergetar, gelap sekeliling, dan roboh seketika. Jemarinya telah semakin dingin. Kepalanya mulai berbintang. Dan pangeran yang diharapkannya hadir seperti mimpi di siang bolong. Ah !

“Permisi ya..” tiba-tiba seseorang duduk di dekatku

Aku melirik, dan hanya tersenyum

Laki-laki itu mengibas-ngibaskan bajunya yang basah kuyub karena kehujanan. Rambutnya tak kalah basah. Dan kacamatanya memburam membentuk guliran-guliran air. Sementara map kertas yang ia bawa tak jelas lagi bentuknya. Bahkan, tinta yang tertoreh meleleh seperti lukisan abstrak.

Aku menyodorkan seplastik kecil tissue yang memang selalu kubawa di dalam tas kerjaku. Nggak tahu kenapa aku merasa iba dengan laki-laki di hadapanku ini. Kupikir, pasti map yang basah kuyub itu sangat berharga untuknya.

“Terima kasih.” Ucapnya ramah

Diambilnya beberapa helai tissue pemberianku dan diusapkannya pada seluruh bagian wajah dan juga kacamatanya.

“Mas orang sini ?” tanyaku

“oo bukan. Saya dari sigambal.” Jawabnya

“Ini tadi naik kereta ? kan jauh ?”

“Iya, namanya juga lagi kerja. Sejauh apapun dijalani aja.” Tuturnya lugu

Aku tersenyum melihat kepolosan laki-laki ini. Pasti dia seorang sales yang menawarkan produk-produk tertentu. Apalagi pakaiannya juga putih-hitam, trade mark seorang sales *sok tahu banget*

“Wah, mapnya basah tuh mas.” Tunjukku

“Eh, iya…padahal map ini penting banget. Isinya data pelanggan. Tapi ya mau gimana lagi, la udah basah.” Katanya sambil tersenyum pasrah

“Atau datanya mau diketik lagi di laptop saya ?” aku menawarkan diri *busyet dah, baik banget sih diriku*

“Boleh ya ?”

“Ya gak papa mas..daripada besok dimarahin bosnya..ya kan ?” godaku iseng

Laki-laki itu tertawa kecil. Antara ya dan tidak menerima tawaranku. Tapi ada sebersit asa di matanya. Enggak tau kenapa aku senang banget bisa berbuat baik sama orang ini. Rasanya kasihan banget. Aku tau pasti bagaimana pedihnya saat kita dimarahin oleh bos. Padahal tak selamanya kesalahan ada di pihak kita. Tapi bos mana mau tahu ? Baginya pekerjaan beres, itu aja !

“Ngopi ya mas ?” tanyaku semangat

“Nggak, nge-teh aja.”

“Wak Sani, buatkan teh lah untuk mas ini.” Teriakku pada Wak Sani

Wak Sani mencibir, dari kejauhan.

“Kau orang sini ?” akhirnya, dia bertanya juga tentang aku

“Aslinya sih orang jawa timur sana mas. Disini kerja.” Jawabku santai

“Oo..disini sendirian atau udah merit ?”

Aku tertawa geli, “Belum merit kok mas..”

“Oo..” tanggapnya sambil manggut-manggut

Aku nyengir kuda, cuma oo…pikirku sembari menggaruk kepalaku yang tak gatal

Aku kembali pada laptopku. Tulisan belum terakhiri juga. Perempuan dalam dongeng alam imajinasiku masih tetap tak bergeming di halte. Hingga terbersit untuk menampilkan sosok pangeran hati datang tiba-tiba, berteduh di halte dan di pojok yang sama. Menawarkan perkenalan. Menawarkan keakraban. Tapi sang pangeran itu sudah lebih dulu basah kuyub. Tasnya mengucur air. Rambutnya berantakan, dan bajunya lusuh tak karuan. Hingga justru perempuan itu iba padanya dan lebih dulu menawarkan perkenalan. Menawarkan keakraban. Diberikannya jaket jeans miliknya dan diberikan pada laki-laki itu. Tak ada kata-kata. Hanya seulas senyuman. Senyuman yang memiliki berjuta arti. Diantaranya, mengharapkan kasih.

Aku menjitak kepalaku sendiri. “Ah..perempuan ini kan belum kenal laki-laki itu. Masa dia begitu gampangnya mengharapkan kasih. Berlebihan banget deh..” gumamku

Kuhapus kalimat terakhir, menjadi mengharapkan persahabatan.

“Ah, persahabatan juga terlalu dalem…” ucapku lirih

Kuhapus lagi kalimat terakhir itu menjadi mengharapkan pertemanan. Dan kali ini aku tersenyum. Ini lebih pas untuk perempuan dan laki-laki itu. Pertemuan yang tiba-tiba, berbuat baik, lalu berteman…

Pertemanan itu tak berlanjut. Hingga hujan reda, mereka berpisah. Mungkin hanya waktu yang bisa mempertemukan mereka kembali. Karena tak ada hasrat untuk bersua kembali. Tak ada pengharapan untuk berjanji di tempat yang sama. Bahkan esok pun tak di halte itu lagi mereka berteduh. Perempuan itu memilih pulang dengan lambaian tangan dan laki-laki itu tak membalasnya. Hilang diantara deru kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.

Aku memonyongkan bibirku. Menyesali kenapa pertemanan itu hanya sebatas itu. Padahal perempuan itu ingin berlanjut. Bahkan bisa saja laki-laki itu mengabulkan permintaannya. Bertandang ke rumahnya. Dan…dan…dan…

“Mbak..aku pulang dulu ya. Hujan udah reda. Hari mulai gelap…” tiba-tiba laki-laki di hadapanku itu berdiri dan berpamitan padaku

Aku tersenyum kecut, “O,iya mas..” jawabku sedikit tergagap

Tak lama, ia menghilang bersama laju keretanya. Entah kemana. Menanyakan siapa namanya pun aku tak sempat. Ah !

Kini tinggal aku yang terpana. Mengutuk diriku sendiri yang begitu bodohnya menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mataku. Laki-laki itu, aku terkesan olehnya. Perasaan yang tak pernah hinggap saat bertemu dengan laki-laki yang lain. Aaaaahhhh !!! teriakku dalam hati. Kesal luar biasa.

Dan hingga hujan itu reda…perempuan itu tak jua bertemu dengan pangeran hatinya. Sendiri lagi. Sepi lagi. Dan terus mengharap hingga hari esok menjelang. Berharap tanpa kepastian. Berharap dengan putus asa…

Aku mengakhiri cerita itu dengan putus asa. Mungkin perempuan itu kuberi nama Jovanka Ariana…diriku sendiri…Ah !!!

* Sidikalang : kopi khas sumatera utara yg terkenal nikmatnya
* Kereta : Sepeda motor ( bahasa sumut )

Senin, 25 Agustus 2008

Cerita tentang Malam

Malam…ada remang cahaya rembulan, ada kerlip bintang kala cerah, ada langit menghampar pekat, ada desir angin yang dingin hingga ke pori kulit, ada sorot lampu-lampu kota yang berwarna-warni, ada warung-warung tenda kaki lima yang menjajakan berbagai hidangan ala kadarnya. Karena mereka, para pedagang sadar, bukan yang terpenting jenis makanan yang dijual, tapi pembeli lebih banyak membeli suasana, membeli pojok lesehan hanya sekadar untuk menikmati malam, seorang diri, beramai-ramai, atau hanya berdua dengan orang terkasih meski cuma ditemani secangkir kopi susu panas dan selembar roti bakar rasa coklat. Sementara, deru mobil dan motor tak henti berlalu lalang diseluruh penjuru jalan raya. Semuanya hingga malam larut…

Pun diriku yang mencoba menikmati malam seperti mereka, selepas maghrib, seorang diri. Berdalih mengisi perut, kulangkahkan kakiku menuju salah satu warung tenda berwarna biru. Menawarkan lesehan, temaram, dan aku tertarik untuk duduk di pojok yang paling pojok. Paling tidak, aku bisa menikmati malam tanpa terganggu dengan sapaan-sapaan teman-teman kuliah yang biasa lewat di sekitar sini seandainya aku duduk di deretan depan atau tengah. Karena aku sedang malas bersapa-sapa.

Seorang perempuan muda berpakaian modis menghidangkan segelas wedang jahe dan omelet dari mi instant yang telah kupesan. Wajahnya sumringah mempersilahkanku menikmati hidangan sederhana itu. Disisi kananku, tampak dua orang muda-mudi, sepertinya seumuranku juga, tengah asyik bercanda sambil sesekali berpandangan. Apalagi sang cewek begitu manja bergelayut di pundak sang cowok. Mesra. Tapi kemesraan itu haruskah menjadi milik umum ? ah, ataukah hanya aku yang cemburu melihat kemesraan itu yang tak kudapat di malam ini maupun malam-malam sebelumnya ?

Tiba-tiba ponsel Nokia jadul yang selalu standby di saku celana jeans-ku berdering. Tak ada lagu-lagu mp3 seperti kebanyakan ponsel canggih jaman sekarang. Yang terdengar hanya dering telepon kriiing..kriiing…itupun bukan midi tapi mono. Sengaja tak kugadaikan ponsel tua ini, karena aku yakin duapuluh tahun ke depan ia akan menjadi barang langka dan banyak dicari kolektor ponsel *halah*

“Halo…” sapaku sedikit malas

“Sas, lagi dimana ?” Tanya di seberang

“Siapa sih ni ? sok akrab deh” Aku balik nanya

“Dirga sas, masa gak kenal suaraku ?”

“Eh, Dirga..sori sori..da apa nih hehehe?”

“Aku lagi di kosanmu nih, tapi kamunya malah gak ada, kemana sih ?”

“Cari makan Ga, ngapain ke kosan Ga ?”

“Ada yang mau aku omongin Sas…”

“Penting yak ? by phone ga bisa yak ?”

“Wah gak bisa Sas…gini deh, kamu bilang lagi dimana, biar aku nyusul kesana ya ?”

Aku terdiam sesaat, haruskah kukatakan dimana aku sekarang ? seberapa pentingkah diriku untuk seorang Dirga ? Laki-laki impianku, teman satu kampus, tapi beda jurusan. Perasaan ini tak boleh kubiarkan tumbuh subur. Akan semakin menyiksaku dalam hari-hari tanpa kepastian, bahkan tanpa tanda-tanda atau firasat sekalipun. Bahkan, kenyataannya Dirga adalah impian semua perempuan di kampus, jelas aku semakin tak istimewa lagi sekalipun dalam ujung mimpiku sendiri. Seketika kutepis rasa itu…

“Duh, sori ya Ga, aku ga bisa ketemuan sekarang.”

“Kenapa Sas ? cuman cari makan kan ?”

“Tadinya…tapi ni sekalian mo ke warnet…sori yaaa..”

“Ya udah aku ikut ke warnet aja, gimana ? atau kamu selesai dari warnet jam berapa ? biar aku jemput ya ?”

Oh God ! sepertinya malam ini aku betul-betul jadi orang penting nih di kehidupan Dirga. Ah Dirga…kenapa cuma malam ini ? kenapa nggak malam-malam lalu kamu juga membutuhkanku ? Ada secerca penasaran menggelayut di otakku. Sebab, Dirga tak seperti biasa. Sassiiii…!!! Udah deh, ga usah ge-er…kali-kali aja Dirga cuma mo minjem duit atau tugas mata kuliah umum. Abis tanda-tandanya mirip ma temen-temen yang sok sibuk nyariin aku, ujung-ujungnya “Aku fotokopi ya diktatnya” atau “Ntar malem aku kembaliin deh tugas ini.” atau “Gajian depan aku bayar deh, seratus ribu aja kok Sas..” hhh..

“Aduh Ga, sori deh ya gak bisa..beneran.”

“Kenapa sih ? atau lagi jalan ma orang ya ?” tanyanya curiga

“Iya Ga, ma Dion.” Jawabku asal. *Dion ???anak siapa tuh?*

“Oh gitu ya..ya udah..gpp, sori ya, ganggu.”

Tuts. Sambungan terputus tiba-tiba.

Tapi, hatiku tak putus bertanya-tanya. Ah, rasanya terlalu naïf aku menyamakan Dirga dengan teman-temanku yang lain. Kepalaku seperti dijatuhi berjuta-juta rasa sesal. Ingin, menghubungi Dirga lagi, dan mengatakan bahwa aku berbohong, dan aku bersedia bukan hanya malam ini tapi juga malam-malam lagi jika ia membutuhkanku. Tapi, mulutku kelu, konsentrasiku buyar, kata-kataku melayang, berhamburan, sampai menyita banyak waktuku malam ini, hanya untuk memikirkan Dirga.

Malam adalah sahabatku. Temanku dalam sebuah perenungan yang kerap melepaskan aku dari segala penat kehidupan. Meski sesaat, tapi malam banyak memberi keindahan. Meski gelap, malam banyak memberi warna. Meski dingin, malam justru menghangatkan jiwaku yang kala dilanda rindu, rindu akan mencinta dan dicintai.

Malam juga yang menghantarku ke peraduan. Menikmati sajian mimpi-mimpi indah yang terpintal begitu saja. Menjadikan bunga tidur hingga menjelang pagi, aku tersadar, malam telah berlalu…

Malam juga menjadi album banyak kenangan indah tercipta. Saat ayah menghadiahkan sepeda motor di hari ulang tahunku yang ke-17 lalu, tepat pukul 20.00. Saat aku menang lomba karaoke 17 agustus-an dan menerima piala terjadi pukul 23.00, lalu saat aku ikut menjadi sukarelawan menolong korban banjir yang melanda kotaku terjadi pukul 21.00, lalu saat aku menemukan selembar uang kertas seratus ribu di jalan *halah, ga penting* pukul 19.00, hingga berjumpa sosok Dirga dan berkenalan juga lewat malam, saat kami sama-sama mengantri di depan mesin ATM. Tapi semua itu hanya sebatas kenangan lalu. Karena tak satupun kenangan itu menjelma menjadi harapan dan kenyataan yang abadi.

Malam ini, aku begitu berharap Dirga masih mencariku, seperti malam kemarin. Sengaja aku lewatkan malam ini di kamar. Menunggui ponsel yang tak jua berdering. Dalam hati, berdoa moga Dirga menghubungi (lagi). Hingga larut malam, lewat tengah malam, dan pagi menjelang, aku tertidur di kursi meja belajar. Didepan batang hidungku, ponsel itu tetap diam membisu. Tak ada jejak-jejak deringnya. Itu berarti, malamku tadi sia-sia…
***

“Sas, ga jenguk Dirga ?” sapa Wulan tiba-tiba, begitu aku memarkir sepeda motor di pelataran kampus

“Kenapa emangnya dia ?” tanyaku sambil melepas helm

“Sekarat tu anak. Tau tu, katanya sih mo coba bunuh diri gitu. Gara-gara cewek.” Jawab Wulan sok tahu

“Jangan nge-gosip deh.” Sahutku cepat

“Suer Sas ! ni lagi berita heboh di kampus. Secara, Dirga tuh ganteng, smart, banyak digilain cewek-cewek, ternyata rela bunuh diri hanya karena cewek ???” Wulan ngomporin

“Serius bunuh diri ? sakit kaliii…???” tanyaku masih ga percaya

“Ya ampun Sas, saksinya tuh si Andi, cowokku yang juga temen satu kosnya Dirga. Si Andi juga yang bawa dirga ke rumah sakit. Abis banyak darah dimana-mana, pergelangan tangannya diiris gitu. Sempet koma juga. Tapi sekarang dah membaik, ga di ICU lagi kok.” Tutur Wulan panjang lebar plus semangat 45

“Kapan kejadiannya Lan ?” tanyaku mulai percaya

“Dua hari yang lalu, tengah malam. Tapi belum ketahuan, siapa cewek yang bisa bikin hatinya keok kayak gitu. Hebat juga tuh cewek ya ???”

“Yakin banget bunuh dirinya karena cewek ?” protesku

“Iya, soalnya di pc-nya ada ketikan yg belum selesai gitu…isinya ttg kekecewaan pada seorang perempuan, tapi ngga da namanya perempuan itu…kira-kira siapa ya..???” gumam Wulan sambil menggaruk-garuk rambutnya yang ngga gatal

Degg ! deuuh..kok aku jadi ge-er banget kalo perempuan itu aku sich ? siapa tau malem itu dia justru pengen curhat aja ttg kekecewaannya itu, dan perempuan itu bukan aku. Ah ! memang bukan aku kok !

“Ya udah…ntar malem kita jenguk dia ya Lan..”putusku kemudian

“Sore aja napa sih ?”

“Malem aja deh, lebih romantis.” Jawabku sambil berlalu

“Romantis ? apa hubungannya yak sama jenguk orang sakit ?” Wulan terbengong-bengong sendiri menanggapi jawabanku
***

Kembali malam bersiap, hadir kembali diantara desah nafasku, mengiringi setiap hariku, melengkapi semua cerita-ceritaku, hingga kembali aku tertidur dalam buai syahdunya. Tapi sebelumnya, ada satu babak cerita yang belum tuntas. Bersambung kayaknya juga ngga mungkin, karena Wulan pasti keki abizz kalo sampe janji jenguk Dirga dibatalkan atau sekadar ditunda. Padahal jujur, malam ini aku merasa teramat lelah. Lelah dengan siang yang begitu terik, lelah dengan tugas-tugas kuliah yang kejar tayang, lelah dengan dosen yang kere, yang beli jam tangan aja ngga bisa, sampe aku harus nunggu lebih dari tiga jam dari janji yang dah dibikin sehari yang lalu *maap ya pak hehehe*, dan yang paling bikin lelah, nanggepin makhluk-makhluk kampus *temen2 maksudnye* yang ribut nge-rapatin rencana mo filtrip. Padahal bukannya mo ke Bali kek, ato ke Singapore kek, atau ke Penang kek…cuma mo ke sebuah kampung kecil yang deket banget lokasinya ma kampus kita. Secara, apanya yang musti dibahas sih ? Tinggal ijin kantor pusat, RT/RW, udah kelar. Transport aja ngga pake, orang kita boncengan masing2 naik sepeda motor kok, yang ngga punya n ngga dapet tebengan yaaa…maap aja jalan kale yeee…itu pun kalo cerdik bisa lewat jalan terobosan n nyampenya bisa lebih cepet daripada yang naik sepeda motor. Hhh…dasar makhluk-makhluk aneh bin ajaib !

Lo, kembali lagi ni mo jenguk Dirga yak ?*sampe lupa* Sementara aku baru selese mandi, Wulan dah rajin banget nungguin di kosan. Mana saltum lagi. Masa mo jenguk orang sakit pake tanktop n hotpant warna ijo ngejrenk gitu si ??? Duh, malu-maluin aja sih..mungkin dianya ngga malu, tapi aku yang malu. Dipikirnya aku lebih stress dari dia karena mau aja berteman dengan orang stress.

“Mo kemana buuk ?” sindirku

“Jenguk Dirga.” Jawabnya mantab, gak da curiga-curiganya kalo aku nyindir dia

“Dingin loh di luar, mending pake jaketku ni.” Kataku seraya melempar jaket jeans ke arahnya

“Nggak dingin kok Sas, tadi aku kesini ngga pake jaket.” Sanggahnya bangga

“Iya tadi, sekarang lain. Udah pake aja. Kalo ngga kita ngga jadi pigi.” Ancamku sedikit geli

Sedikit bersungut, Wulan pun memakai jaket itu.

Rumah sakit itu masih putih, polos, dan berkoridor-koridor. Di ujung sebelah kanan, gedung bertingkat tiga tampak terang benderang. Terlihat berjejer tempat tidur di setiap lantai. Pasti itu kelas biasa alias bangsal. Terlihat juga di luar gedung, puluhan orang menggelar tikar, beratap langit, berselimut dingin, menunggui sanak saudara, kerabat, sahabat, kekasih, anak, dsb dengan penuh kepasrahan. Nampak guratan-guratan wajah nan lelah pada diri mereka. Kasihan…

“Kamarnya dimana Lan ?”

“Pavilyun Mawar nomer lima A. Kayaknya depan itu belok kiri ya…”

Aku mengangguk

“Nah, bener kan. Tinggal kita cari nomer lima A.” teriak Wulan hepi banget.

Setelah beberapa langkah kami menyusuri koridor pavilyun Mawar, akhirnya sampai juga kami di depan kamar bernomor lima A. Entah kenapa, tiba-tiba perasaanku menjadi tak terkendali. Antara sedih, senang, takut, deg-degan, hingga salting tak karuan. Duuh ! aku menjitak kepalaku sendiri.

“Kenapa Sas ? pusing ya ?” Tanya Wulan polos

Aku tak menjawab.

“Yakin ini kamarnya ?” tanyaku memastikan

“Yakiiiiiinnn…” jawab wulan dengan suara sedikit melengking. Cepat-cepat aku membungkam mulutnya.

“Ya udah, kamu duluan yang masuk ya !” kudorong-dorong tubuh mungil Wulan

“Aaahh…engga ah…takut ni..” Wulan mengelak

“Takut apaan ?”

“Abis ngajak ke rumah sakitnya malem-malem sih..kan sepiii…”

“Yee..kebanyakan nonton sinetron !”

“Udah deh, masuk gih…ngga enak diliatin orang-orang lewat. Pikirnya kita lagi ngapain.” Paksaku

Wulan menyerah *memang selalu menyerah kalah yak hehehe*. Perlahan dibukanya pintu kayu sedikit berukir itu. Perlahan pula, tampak seorang Dirga tergolek lemah di tempat tidur. Tak sedang tidur. Ia tersenyum melihat Wulan, meski dipaksakan.

“Masuk aja mba. Temennya Dirga ya ?” seseorang menyapa Wulan

Wulan beringsut masuk, diikuti aku. Saat mengetahui ada aku, Dirga sedikit terkejut. Senyum yang ia berikan untuk Wulan sungguh berbeda dengan yang diberikannya padaku. Getir. Aku berusaha biasa saja. Justru aku lebih penasaran dengan sosok perempuan cantik yang telah lebih dulu ada dalam kamar yang sejuk ini. Cantik dan sepertinya sangat perhatian dengan Dirga. Hatiku menciyut. Pasti perempuan ini yang membuat Dirga rela berbuat begini. Ya Pasti !*sok tau banget*

“Kenalkan, nama saya Windy.” Perempuan itu ramah mengulurkan tangannya yang putih mulus padaku dan Wulan

“Saya Wulan.”

“Sasi.” Jawabku singkat

Tak seberapa lama, Wulan dan Windy telah terlihat akrab. Saling mengobrol dan tertawa. Dan, entah kenapa aku menjadi pendiam. Bahkan terancam membisu. Aku enggan terlibat didalamnya. Kusadari ada cemburu yang menusuk hingga ulu hati. Tatkala, Windy dengan telaten mengelap keringat Dirga atau sekadar menanyakan ingin minum atau tidak. Ups ! aku berusaha membohongi diriku sendiri, tapi aku tetap cemburu, tetap tak ingin kebahagiaan malam ini menjadi milik Windy atau siapapun juga.

Malam semakin menunjukkan harapan. Selalu begitu, dan aku selalu percaya. Dan harapan itu ada di depan mataku saat ini. Sesaat akan pamit pulang, Dirga menahan langkahku dengan menarik separuh tangan kananku. Sakit oleh cengkeraman kuatnya. Tapi pasrah saat ia menarikku untuk mendekat padanya. Wajahnya tirus. Tapi tak serta merta menjadi kabut yang menyelimuti ketampanannya.

Jantungku berdegup kencang. Peluh yang tak seharusnya membasahi bajuku seolah tak tertahan lagi. Ya, aku benar-benar dilanda kegundahan yang luar biasa. Kegundahan yang sama lima tahun silam, saat Ruben menyatakan cinta di taman kota *halah* malam hari jua, dan saat setahun berselang, ia mencampakkanku begitu saja. Sempat menjadi luka menganga yang tak terobati, hingga aku bertemu dengan Dirga, menikmati jatuh cinta dalam hati, terpendam tanpa seorang pun yang tahu. Bahkan diriku sendiri sempat meragukannya dan menepisnya.

“Kamu mau pulang juga Sas ?” suara Dirga seperti mengisi penuh rongga hatiku. Dan suara lembut itu mampu membuatku terpana dan semakin kikuk

“Iya Ga..” jawabku pelan namun berharap Dirga mencegah dan memintaku untuk tetap tinggal menemaninya. Setidaknya malam ini saja.

“Win, mending kamu balik dulu aja ya, istirahat lah, kan dah dari kemarin kamu nungguin aku disini. Sekalian Wulan bareng mobil kamu aja Win, kasihan ntar dia pulang sendiri malem-malem…” ucap Dirga

Sesaat kami semua terdiam. Aku yakin tak satupun yang menyangka Dirga akan mengatakan itu.

Windy tersenyum kecut, “Eh, emm…iya Ga…ya udah, aku pulang dulu ya..” pamit Windy kemudian

Wulan terbelalak, “Jadi Ga, Sasi nginep sini gitu ?”

“Iya. Biar malem ini dia temenin aku disini. Dia harus bertanggungjawab dengan semua ini..” jawab Dirga pasti

“Bertanggungjawab ???” Wulan, lagi-lagi nggak ngeh juga dengan maksud Dirga. Sebelum akhirnya dia pergi juga dengan sejuta pertanyaan tentang ‘tanggungjawab’ *hihihi*

Dan saat ini, hanya ada aku dan Dirga. Saling membisu dalam kerinduan yang teramat sangat. Perlahan Dirga meraih jemariku…

“Kamu pasti sudah tau aku coba bunuh diri..kamu pasti juga udah tau aku bunuh diri karena kecewa dengan seorang cewek…” Dirga membuka pembicaraan

Aku mengangguk pelan, “Iya…di kampus beritanya udah nyebar Ga…”

“Kamu tau siapa cewek itu ?”

Aku menggeleng, “Nggak tau Ga…”

“Namanya Sasi Wurindra.”

“Aku Ga ???” teriakku sambil menunjuk mukaku sendiri

“Iya..siapa lagi ?”

“Kok bisa aku sih Ga ?”

“Harusnya malem itu aku udah niatan mo nembak kamu. Sampe aku bela-belain gak pulang kampung. Padahal hari itu juga ada acara keluarga di Surabaya. Tapi aku inget hari itu kamu ulang tahun kan…makanya aku bersikeras nggak pulang biar dapet momen yang pas buat nembak kamu. Tapi kamunya malah dah nge-date ma cowok lain. Kupikir pasti dia pacar kamu. Karena kayaknya malam itu kamu betul-betul nggak mau ketemu aku…”

Oh my God !!! Geblek bangets sih diriku ! sumpah, aku nggak inget sama sekali hari itu ulang tahunku. Lupa aseli !!!

“Ya ampun Ga…sumpah, aku sendiri lupa lagi ulang tahun…dan baru sekarang aku inget…” ucapku penuh dengan penyesalan

“Jadi, malam itu kamu ngga lagi ngerayain ultah ma pacar kamu ?”

“Tunggu…tunggu…pacar Ga ? pacar yang mana ?”

“Dion ?!”

Sejenak aku terdiam, lalu terkekeh di antara wajah bingungnya Dirga.

“Dion ya Ga ? hihihi…Dion itu ga ada Ga…fiktif ! waktu itu aku bingung mo cari alasan supaya bisa menghindar dari kamu…terlintas nama Dion, ya udah…tercetus deh…” terangku sedikit geli

“Trus kenapa kamu menghindar dari aku ?” suara Dirga kelihatan marah

“Aku…aku cuma ngga ingin setiap malam selalu sendiri dalam sepi, merasakan cinta yang kurasakan sendiri. Aku selalu berusaha mengusir semua itu Ga…membunuh cinta yang sepertinya makin hari makin tumbuh subur, sementara orang yang aku cintai tak sedikitpun memberi celah untukku menikmati firasatnya, meski semuanya belum pasti...”

“Cinta itu aku kan Sas ?”

Aku mengangguk.

“Sas..tau ngga ? sebenarnya aku udah suka sama kamu sejak kita ketemu dan kenalan. Aku selalu berusaha cari tahu tentang kamu. Dan terakhir, aku tahu bahwa kamu sedang terluka karena seseorang. Aku coba menunggu dan sabar sampai luka itu sembuh, karena aku ngga mau menjadi perban untuk membungkus lukamu. Kubiarkan luka itu mengering, dan aku ingin menjadi kulit yang baru tanpa luka lama…”

“Sebenarnya juga Ga…lukaku telah mengering saat ketemu dan kenalan sama kamu…” potongku lirih

Dirga menatapku dengan penuh kasih. Aku terhanyut dalam sorotnya. Malam ini hening.

“Kamu mau kan jadi kekasih aku Sas ?”

Tak ada lagi tempatku untuk bersembunyi dibalik kebimbangan. Karena yang ada kini hanyalah kepastian. Kepastian yang kutunggu-tunggu sekian lama. Malam demi malam…larut menghanyut…dan sekali lagi, malam sudah memberiku ruang terindah dalam hidupku. Tak lagi sendiri, tak lagi sepi, tak jua berkawan saja dengan langit pekat dan bintang..karena malam ini aku perkenalkan pada kalian semua…kekasih hati yang akan menjadi bagian dari kita…dari malam…
***
cerpen *lagi stress nee...*

Jumat, 18 Juli 2008

Ibu Tiriku, Oase yang Sempat Hilang...

Ibu Tiriku, Oase yang Sempat Hilang...

Dulu kupikir bapak sudah tidak mencintai ibu lagi. Selang dua tahun sejak ibu meninggal, bapak memutuskan untuk menikah lagi. Jelas, bagiku, kala itu bapak sudah mengkhianati mendiang ibu. Sudah seperempat abad lebih ibu menemani bapak dengan setia dan tanpa mengeluh, tiba-tiba kini dengan mudahnya bapak melupakan ibu dengan menikahi seorang perempuan bernama Rina. Perempuan berjilbab itu masih tergolong muda, 40 tahun dan bapak 55 tahun. Meski janda tanpa anak, penampilannya masih seperti gadis saja. Pantas saja bapak seperti terlena dengan dia. Yang aku tak habis pikir, bagaimana mungkin perempuan itu mau dinikahi bapak yang sudah tua dan punya empat orang anak ? Sempat terbersit bahwa perempuan itu hanya mengincar harta bapak. Maklum, di kampung kami bapak memang tergolong orang yang cukup mapan. Tapi segera kutepis pikiran itu dan selanjutnya aku hanya bisa diam menyaksikan ijab Kabul kedua bapak itu.

Hari itu, hari pertama kali ada “perempuan asing” dalam rumah kami. Kami berempat cuma bisa terdiam melihat bapak dan perempuan itu terlihat begitu suka cita. Amarah dan sakit hatiku semakin memuncak ketika malam mulai larut. Bagaimana tidak, perempuan itu tidur dalam satu kamar dan satu ranjang dengan bapak. Seharusnya ibu yang ada disisi bapak, bukan dia. Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan sedikit terisak dalam kamar, hingga tertidur…

Pagi hari, pukul 05.00 kudengar di dapur telah bising oleh suara orang memasak. Dengan sedikit masih mengantuk kucoba melihat apa yang telah terjadi di dapur. Sebab sejak ibu tiada, tak pernah ada lagi acara memasak di pagi hari. Masing-masing disibukkan dengan dirinya sendiri sehingga urusan sarapan pagi kami beli sendiri-sendiri di warung.

Aku terkesiap, beberapa jenis masakan telah tersedia di meja makan. Dan perempuan itu dengan sumringah menyapaku. “Udah bangun Fin ?”

Aku tak menjawab, hanya berlalu.

“Sholat subuh dulu Fin…” sambungnya kemudian.

Lagi-lagi aku tak menyahut.

Begitulah hari-hari kami sejak ada perempuan itu. Memang sedikit teratur, tapi tetap saja kuanggap itu cuma bentuk usaha dia untuk memikat hati kami, anak-anak bapak, terutama aku. Paling-paling hanya satu bulan pertama saja seperti itu, selanjutnya…ah !

Satu…dua…tiga…empat…lima bulan berlalu. Perempuan itu tetap konsisten menjalankan roda rumah tangga dengan baik. Mulai dari menyiapkan makan, mencuci, menyetrika, bersih-bersih rumah hingga mencari uang dengan menjalankan usaha berdagang baju-baju muslim. Memang, teman-temannya cukup banyak. Silih berganti datang ke rumah untuk melihat dan membeli baju-baju muslim yang diambilnya dari jawa tengah. Setiap hari, kalau tidak ada jadwal kuliah, aku sering mengintip dari balik jendela kamar yang memang berseberangan dengan ruang tamu. Perempuan itu begitu ramah dan telaten dalam melayani pembeli. Senyum merekah tak henti-hentinya tersungging dari bibirnya. Dan kulihat orang-orang itu begitu senang dengan bu Rina, begitulah terakhir aku memanggilnya. Tidak tampak di wajahnya rasa letih dan lelah. Padahal aku tahu, sejak dari sebelum subuh, bu Rina sudah bangun, memasak, mencuci, menyapu, mengepel, hingga menyiapkan segala kebutuhan bapak dan kami sebelum berangkat beraktifitas.

Hingga pernah, pada suatu hari, saat dirumah sepi, hanya ada aku dan bu Rina, ia bertanya padaku. “Fin, kalo lulus kuliah mau kerja apa ?”

Aku menggeleng, malas menanggapinya.

“Pasti kerja kantoran ya ? Ibu lihat Fifin suka menulis di komputer.”

Aku masih diam.

“Atau mau gak bisnis kayak ibu ?” tanyanya kali ini dengan nada bercanda

“Nggak.” Jawabku cepat

Bu Rina tertawa kecil, “Iya, kalau bisa raih cita-cita yang lebih tinggi lagi ya…fifin kan udah kuliah, harusnya bisa jadi yang lebih dari sekadar berjualan baju kayak ibu. Ibu dulu kan nggak kuliah, cuma tamatan SMP, jadi ya mana mungkin kerja di kantoran. Bisanya ya jualan gini aja. Tapi alhamdulillah, hasilnya lumayan juga lo…”

Seketika hatiku menciyut. Sedikit ada rasa kagum pada bu Rina.

“Dulu, ibu juga ingin jadi orang pintar, kerja di kantoran. Tapi sayang kondisi keuangan keluarga pada waktu itu gak memungkinkan untuk ibu bisa sekolah tinggi. Tapi ibu dulu bertekad ingin mandiri meski berbekal pendidikan yang minim. Makanya, fifin sekarang udah enak tuh, biaya sekolah ada, jadi jangan sampai semua itu terbuang sia-sia. Manfaatkan kesempatan yang ada dengan baik. Sebenarnya jadi apapun gak masalah, yang penting tidak bertentangan dengan agama dan dijalani dengan penuh tanggungjawab. Ibu doakan besok fin jadi orang sukses ya.”

Sederhana saja apa yang dikatakannya, tapi entah kenapa, tiba-tiba batinku bergejolak. Seperti tengah mendorong-dorong semangatku untuk bangkit. Apalagi saat ia katakan akan mendoakan aku untuk sukses...memang, sejak ibu meninggal, seperti hilang gairah hidupku. Parahnya lagi, tidak ada yang memberiku semangat. Bapak sibuk bekerja, sementara saudara-saudara kandungku pun tak pernah ada waktu untuk berbagi. Aku seperti menemukan tempat berlabuh, tempat bersandar. Seketika ingin rasanya aku menumpahkan segala isi hatiku yang selama ini terpasung dalam kesepian tanpa ibu. Kata-kata dan suara lembut bu Rina sanggup membiusku untuk terlena dalam dekapannya. Dan, kala itu aku memang jatuh dipelukannya dan menangis membasahi jilbabnya putihnya. Hari itu aku merasakan belaian yang begitu tulus. Meski tak dapat mengalahkan ibu, tapi aku cukup tenang bersamanya.

Bu Rina, ibu tiriku. Tak sanggup aku memanggilnya ibu seperti aku memanggil ibuku. Tapi aku dan juga ia tak pernah peduli. Kasih dan cinta tak hanya sebatas sebutan ibu. Sudah cukup bagiku petuah dan limpahan do’a yang bu Rina berikan padaku menjadi oase yang selama ini sempat hilang dari hidupku.

Kini, aku telah berumah tangga dan memiliki seorang puteri kecil berusia satu tahun. Dan kini aku menganggap bu Rina bukan saja sebagai ibu, tapi juga guruku dalam berkarya, temanku dalam suka, dan pelipur laraku dalam duka. Aku juga berdagang baju muslim dan bahkan memiliki langganan yang lebih besar dari bu Rina. Ah, bangganya aku. Tapi ternyata bu Rina lebih bangga padaku.

Bu Rina tak pernah lelah dan lalai menemani bapak, menapaki usia yang semakin senja. Kini aku lega, ibu di surga pasti juga bahagia, karena bu Rina menjadi pengganti peran ibu yang tulus. Satu hal yang sampai detik ini menjadi pembelajaran untukku dari bu Rina. Bagaimana bu Rina begitu berbesar hati saat dulu aku tak pernah mempedulikannya, bagaimana bu Rina begitu tabah menjalani hari-hari bersama bapak yang sempat sakit-sakitan, bagaimana juga bu Rina begitu bertanggungjawab menjalankan setiap tugas dan kewajibannya dalam mengurus rumah tangga dan kerjaan. Dan satu lagi bagaimana bu Rina begitu tulus menyayangi bapak, aku, dan saudara-saudaraku.

Seorang bu Rina telah membuka mata hatiku, bagaimana aku harus bisa menjadi perempuan mandiri dan kuat dalam mengarungi hidup. Tak harus menjadi kejam, otoriter, angkuh, ataupun keras hati untuk bisa mandiri dan kuat. Tapi justru kelembutan, kesabaran, serta keikhlasan akan membawa kita menjadi perempuan yang tak terkalahkan.***

*terpilih dlm 10 besar cermin indosiar 2008*